f Makna Tauhid dan Pembagiannya ~ Urwatun Wursqa

Rabu, 25 Mei 2016

Makna Tauhid dan Pembagiannya

Makna Tauhid dan Pembagiannya
Sesungguhnya tujuan Allah menciptakan jin dan manusia adalah agar mereka mengamalkan tauhid, yaitu beribadah hanya kepadaNya dan menjauhi segala macam perbuatan syirik. Maka dari itu Allah mengutus para nabi dan rasul dan juga menurunkan kitab suci sebagai pedoman dan petujuk bagi mereka dalam beribadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyaat [51]: 56)
Dan firmanNya:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun.” (QS. an-Nisa [4]: 36)

Makna Tauhid

Tauhid secara bahasa merupakan mashdar (kata dasar) dari fi’il (kata kerja): (وَحَّدَ- يُوَحِّدُ) yang artinya menjadikan sesuatu menjadi satu atau tunggal.
Sedangkan secara istilah, makna tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan apa-apa yang menjadi kekhususan bagiNya baik itu dalam masalah rububiyyah, uluhiyyah ataupun asma wa sifat. (al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cetakan Dar Ibnu al-Jauziy, Riyadh 1419 H, halaman 8).

Ruang Lingkup Ilmu Tauhid

Pembahasan ilmu tauhid meliputi pembelajaran tentang hal-hal yang wajib kita tetapkan bagi AllahSubhanahu wa Ta’ala, baik itu yang berupa sifat kemuliaan yang ada padaNya maupun sifat kesempurnaan yang dimilikiNya. Bahasan ilmu tauhid juga meliputi hal-hal yang mustahil ada pada diri Allah dan tidak layak disandangNya, baik itu yang berupa (sifat-sifat) maupun perbuatan-perbuatan. Selain itu, bahasan ilmu tauhid juga mencakup hal-hal yang wajib kita tetapkan bagi para Nabi dan Rasul dan hal-hal yang mustahil ada pada mereka. Dan juga mencakup hal-hal yang berhubungannya seperti permasalahan iman terhadap kitab-kitab yang diturunkan Allah, malaikat-malaikatNya yang suci, hari kebangkitan dan hari pembalasan, serta qadha dan qadar. Adapun faidah dari ilmu tauhid yaitu memperbaiki akidah dan sebagai jalan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. (Mudzakarah at-Tauhid, Syaikh Abdurrazaq ‘Afifi, cetakan al-Maktab al-Islamiy, Beirut 1403 H, halaman 3).

Pembagian Tauhid

Setelah melakukan pengkajian terhadap dalil-dalil di dalam al-Quran, maka para ulama membagi tauhid menjadi 3 (tiga) macam, yaitu: tauhid rububiyyahtauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa sifat. Dan ketiga macam tauhid ini tercakup dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً
“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepadaNya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?.” (QS. Maryam [19]: 65)

1. Tauhid Rububiyyah

Yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meyakini bahwasanya Allah lah satu-satunya Dzat yang telah menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, menguasai dan mengatur segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dalil-dalil yang menunjukan hal ini pun sangatlah banyak, diantaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?.” (QS. Faathir [35]: 3)
Dan juga firmanNya:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. az-Zumar [39]: 62)
Dan juga firmanNya:
وَلِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 189)
Serta firmanNya:
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”.” (QS. Yunus [10]: 31)
Seseorang belumlah bisa dikatakan muslim hanya karena dia meyakini tauhid rububiyyah, hal itu dikarenakan orang-orang kafir juga menyatakan keyakinan mereka terhadap tauhid ini. Hal ini seperti yang telah Allah sebutkan dalam firmanNya:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”.” (QS. az-Zumar [39]: 38)
Dan juga firmanNya:
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”.” (QS. Yunus [10]: 31)
Perhatikanlah! Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa orang-orang kafir juga meyakini bahwa Allah lah yang telah menciptakan, memberi rizki, meghidupkan dan juga mematikan, namun demikian hal ini tidaklah menjadikan mereka termasuk orang-orang muslim, mengapa? Jawabannya adalah karena mereka belum mengimani tauhid jenis yang kedua (yaitu tauhiduluhiyyah) yang merupakan inti dari keislaman seseorang.

2. Tauhid Uluhiyyah

Yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara-perkara ibadah dengan menghambakan diri hanya kepadaNya disertai dengan ketundukan, keikhlasan, kecintaan, penghormatan dan peribadatan hanya kepadaNya serta tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Segala macam ibadah seperti shalat, do’a, puasa, menyembelih, bernadzar, haji, umrah, sedekah dan lain sebagainya, harus ditujukan semata-mata hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jenis tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para nabi dan rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”.” (QS. an-Nahl [16]: 36)
Dan juga firmanNya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS. al-Anbiyaa’ [21]: 25)
Kebayakan manusia dari zaman dulu hingga sekarang tidaklah mengimani uluhiyyah Allah, dan tentu saja hanya orang-orang mukmin sajalah yang mengimaninya, yang mana mereka merupakan pengikut agama para nabi dan rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللّهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf [12]: 106)
Dalam perkara rububiyyah, orang-orang kafir meyakini bahwasanya Allah lah yang menciptakan, memberi rizki, meghidupkan dan juga mematikan serta mengatur segala yang ada di alam semesta ini. Namun dalam perkara uluhiyyah, mereka tidak mau meyakini bahwasanya hanya Allah lah satu-satunya sesembahan yang berhak untuk diibadahi. Dahulu Rasullullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah mengajak mereka (orang-orang kafir) untuk mengucapkan kalimat “laa ilaha illallah”, namun dengan sombong mereka menolaknya dan berkata:
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهاً وَاحِداً إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ وَانطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki . Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (QS. Shaad [38]: 5-7)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menggambarkan keadaan orang-orang kafir ketika mereka diajak untuk mengucapkan kalimat tauhid “laa ilaha illallah” dalam firmanNya:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”.” (QS. ash-Shaafaat [37]: 35-36)

3. Tauhid Asma wa Sifat

Yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengimani setiap nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diriNya sendiri dan yang telah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wassalamtetapkan untukNya, tanpa melakukan tahrif (ta’wil), ta’thil, takyif ataupun tamtsil terhadap nama dan sifat-sifat Allah. Hal ini karena setiap nama dan sifat yang Allah miliki tidaklah sama dengan nama dan sifat yang ada pada para makhluknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura [42]: 11)
Penjelasan:
a) Tahrif (ta’wil) adalah menyelewengkan atau memalingkan makna dhzahir (makna yang jelas tertangkap) ayat dan hadits-hadits shahih (yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah) kepada makna-makna lain yang bathil dan salah. Seperti contohnya: sifat istiwa’ (bersemanyam di tempat yang tinggi) diselewengkan menjadi istawla (menguasai).
b) Ta’thil adalah mengingkari sifat-sifat Allah dan menafikan (menolaknya). Seperti sifat Allah ‘uluw(berada tinggi di atas langit), sebagian kelompok sesat mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana (di setiap tempat).
c) Takyif adalah membagaimanakan atau menggambarkan sifat-sifat Allah. Seperti contohnya menggambarkan sifat bersemayamnya Allah di atas ‘arsy begini dan begini. Padahal bersemayanmnya Allah di atas ‘arsy tidaklah sama dengan bersemayamnya para makhluk, dan tidaklah ada seorang pun yang mengetahui gambaran bagaimananya kecuali Allah semata.
d) Tamtsil adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluknya. Maka tidak boleh dikatakan bahwa turunnya Allah ke langit dunia sama seperti turunnya kita (ke suatu tempat). Adapun hadits yang menyatakan bahwa Allah turun ke langit dunia adalah shahih seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Referensi:
al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Dar Ibnu al-Jauziy, Riyadh 1419 H.
Mudzakarah at-Tauhid, Syaikh Abdurrazaq ‘Afifi, al-Maktab al-Islamiy, Beirut 1403 H.
Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, Syaikh Imam Abu ‘Izzi ad-Dimasyqi, Mu’assasah ar-Risalah, Beirut 1421 H.
I’anatu al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid, Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan, Mu’assasah ar-Risalah, 1423 H.
Minhaj al-Firqah an-Najiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
• Dan sumber-sumber yang lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar