f 04/12/16 ~ Urwatun Wursqa
  • Pondok Pesantren Mafaza Yogyakarta

    Sebuah Pondok pesantren yang ada di Yogyakarta, tempatku membangun karakter dan mental dengan ilmu agama yang diajarkan...

  • Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sebuah kampus yang akan membangun kader pemimpin bangsa dan penegak hukum yang amanah dan dapat dipercaya http://uin-suka.ac.id/...

  • Kampus MAN Lab. UIN Yogyakarta

    Lembaga setingkat SMA, yang dalam lembaga itu aku memulai belajar berorganisasi, belajar bertanggung jawab, serta belajar menjadi pemimpin...

  • Kementrian Agama Republik Indonesia

    Salah satu kementrian yang ada dalam susunan penerintahan, yang suatu saat nanti aku akan menjadi pemimpin di Kementrian Agama Tersebut...

Selasa, 12 April 2016

Ketika Malaikat Penjaga Arsy Allah Lupa Bertasbih

 

            Sobat yang beriman, semoga hari anda selalu baik dan selalu mendapatkan keberkahan dalam melakukan segala aktivitas. Dan Semoga saja Allah selalu memilih kita untuk selalu taat Kepada-Nya. Sebelumnya kami membagikan artikel mengenai Sahabat Nabi Pemilik Betis Terberat di Akhirat, dan kali ini kita akan berbagi Kisah Pilihan yang berjudul Ketika Malaikat Penjaga Arsy Allah Lupa Bertasbih yang Insya Allah dapat meningkatkan Keimanan kita KepadaNya.  
            Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Kakbah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”
            Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”
            Orang itu berhenti di satu sudut Kakbah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”
            Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.
            Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”
            Mendengar kata-kata orang badui itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”
            “Belum,” jawab orang itu.
            “Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.
            “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.
            Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”
            Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.
            Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.
            Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”
            Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”
            Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”
            Orang Arab badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”
            Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.
            Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”
            Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu. Subhanallah !!




Disarikan dr http://k-islamic.blogspot.com

Kisah Sahabat Nabi Yang Jasadnya Dilindungi Lebah


            Ketika perang Uhud selesai para kaum Quraisy Merasa menang dan kegirangan atas kalahnya pasukan muslimin. Mereka berpesta dengan merusak mayat-mayat kaum muslimin yang tewas dalam pertempuran, dengan cara yang sangat keji. Perut mayat-mayat itu mereka belah, matanya dicongkel, telinga dan hidung mereka dipotong.

            Bahkan ada seorang di antara mereka tidak puas dengan cara seperti itu. Hidung dan telinga mayat-mayat itu dibuatnya menjadi kalung, lalu dipakai, untuk membalaskan dendam bapak, saudara, atau paman mereka yang terbunuh dalam Perang Badar.

            Ketika itu Sulafah binti Sa’ad menunggu kabar keluarganya. Hatinya guncang dan gelisah menunggu kemunculan suami dan ketiga anaknya. Dia berdiri bersama kawan-kawannya yang sedang dimabuk kemenangan. Setelah lama menunggu dengan sia-sia, akhirnya dia masuk ke lapangan pertempuran, sampai jauh ke dalam. Diperiksanya satu per satu wajah mayat-mayat yang bergelimpangan.

            Tiba-tiba dia menemukan mayat suaminya terbaring berlumuran darah. Dengan pandangan hampa, dilayangkannya pandangan ke segala arah, mencari anak-anaknya. Tak berapa lama, didapatinya Musafi dan Kilab pun telah tewas. Sedangkan Julas masih hidup, dengan sisa-sisa napasnya.

            Dipeluknya tubuh anaknya yang dalam keadaan sekarat itu. Kemudian kepala anaknya itu dia taruh dipahanya, dibersihkannya darah pada kening dan mulut anak itu. Air matanya terkuras oleh penderitaan yang hebat yang dialaminya hari itu. “Siapa lawan yang telah melukaimu, Nak?” Sulafah bertanya sambil mengguncang kepala anaknya. “Siapa?”
            Di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal, Julas masih mampu menyebut nama, “Ashim bin Tsabit. Dia pula yang membunuh Ayah dan…”Belum habis dia bicara, napasnya telah putus, nyawanya telah dicabut malaikat maut.

            Ibu tiga anak itu menangis sekeras-kerasnya. Kemudian, dari mulutnya terlontar sumpah, demi Lata dan Uzza, tidak akan makan dan menghapus air mata, kecuali bila orang Quraisy membalaskan dendamnya terhadap ‘Ashim bin Tsabit, dan memberikan batok kepalanya untuk dijadikan mangkuk tempat minum khamar. Ia menjanjikan seratus ekor unta kepada siapa saja yang bisa membawakan kepala Ashim kepadanya.  

            Hingga suatu hari Rasulullah di Madinah memilih 10 orang sahabat untuk melaksanakan suatu tugas penting di Makkah, dan mengangkat ‘Ashim sebagai pemimpinnya. 10 orang pilihan ini kemudian berangkat melaksanakan tugas yang dibebankan Rasulullah kepada mereka. Di antara Osfan dan Makkah, kedatangan mereka diketahui oleh bani Lahyan, mereka mengerahkan 100 orang pemanah ulung untuk mengepung 10 orang sahabat ini yang bersembunyi di sebuah bukit. 

            Orang-orang kafir itu berkata, "Kami tidak ingin menumpahkan darah kalian di tanah kami, kami hanya ingin membawa kalian ke Makkah untuk ditukar dengan harta. Ikutlah bersama kami, kami tidak akan membunuh kalian."

            Ashim sebagai pimpinan memberi semangat pada teman-temannya, "Tidak diragukan lagi, orang-orang ini telah mengkhianati kita, janganlah kalian lemah, ketahuilah bahwa kesyahidan adalah ghanimah, Allah yang kita cinta bersama kita, dan para bidadari menunggu kita di surga."

            Kemudian ia menghambur maju menyerbu musuh dengan lembingnya. Ketika lembingnya patah, ia ganti menyerang dengan pedangnya. Tetapi keadaan yang sangat tidak seimbang membuat dirinya roboh penuh luka. Tetapi sebelum kesyahidan menjemputnya, ia berdoa dengan nafas terputus-putus, "Ya Allah, sampaikanlah berita kami kepada Rasulullah SAW, Ya Allah, aku telah mengorbankan diri di jalanMu yang benar, selamatkanlah kepalaku dari tangan-tangan kotor orang kafir itu."

            Sebelumnya Ashim memang telah mendengar “sayembara” yang diadakan oleh Sulafah untuk memperoleh kepalanya. Dan Allah mengabulkan doa Ashim ini, Allah memberitahu Nabi SAW tentang keadaan Ashim, melalui doanya.  Allah juga mengirimkan sekelompok lebah mengerubuti tubuh Ashim, sehingga mereka tidak bisa menyentuh jasadnya apalagi memenggal kepalanya, mereka berharap akan bisa melakukan malam atau esok harinya setelah lebah-lebah itu menyingkir. Tetapi malam harinya Allah mengirimkan hujan deras yang menimbulkan banjir, sehingga jasad Ashim hanyut terbawa dan tidak bisa ditemukan oleh orang-orang kafir tersebut. 


Allahu Akbar !!

Sumber: http://sobecan.blogspot.co.id/2015/06/inilah-kisah-sahabat-nabi-yang-jasadnya.html

Kisah Sahabat Nabi : Karomah Ali Bin Abi Thalib RA

            Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Nabi Muhammad SAW. Karena ia adalah anak dari paman yang selalu membelanya dalam mendakwahkan agama Islam dimekkah (Abi Thalib). Ali juga menantu Rasulullah SAW. Beliau dinikahkan dengan putri Kesayangan Nabi Yang bernama Fatimah Az Zahra RA. Beliau memiliki keistimewaan yang luar biasa dalam sirah kehidupannya. Dia memiliki banyak keutamaan dan karomah. Namun Kali ini hanya beberapa kisah saja yang dapat kami disajikan. Semoga Ini dapat Menambah Keimanan Kita Kepada Allah SWT.

Kisah Pertama
            Imam Fakhrurrazi menuliskan dalam kitabnya bahwa seorang budak kulit hitam mencuri milik seseorang. Budak tersebut pengikut setia Ali Bin Abi Thalib RA. Ketika diseret dihadapan Ali, Ali bertanya "Benarkah Engkau mencuri?" la menjawab, "Ya," maka Ali memotong tangannya. Budak itu berlalu dari hadapan Ali , kemudian berjumpa dengan Salman al-Farisi dan Ibnu al-Kawwa'. Ibnu al-Kawwa' bertanya, "Siapa yang telah memotong tanganmu?" Ia menjawab, "Amirul mukminin, pemimpin besar umat muslim, menantu Rasullah, dan suami Fatimah." Ibnu al-Kawwa' bertanya, "la telah memotong tanganmu dan kamu masih juga memujinya?" Budak itu menjawab, "Mengapa aku tidak memujinya? Ia memotong tanganku sesuai dengan kebenaran dan berarti membebaskanku dari neraka."
            Salman mendengarkan penuturan budak itu, lalu menceritakannya kepada Ali. Selanjutnya Ali memanggil budak hitam itu, lalu meletakkan tangan yang telah dipotong di bawah lengannya, dan menutupnya dengan selendang, kemudian Ali memanjatkan doa. Orang-orang yang ada di sana tiba-tiba mendengar seruan dari langit, "Angkat selendang itu dari tangannya!" Ketika selendang itu diangkat, tangan budak hitam itu tersambung kembali dengan izin Allah. Bahkan tangan yang terpotong tersebut tampak lebih sempurna dari sebelumnya

Kisah ke-2
            Siad bin Musayyab menceritakan bahwa ia dan para sahabat menziarahi makam-makam di Madinah bersama Ali . Ali lalu berseru, "Wahai para penghuni kubur, semoga dan rahmat dari Allah senantiasa tercurah kepada kalian, beritahukanlah keadaan kalian kepada kami atau kami akan memberitahukan keadaan kami kepada kalian." Lalu terdengar jawaban, "Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah senantiasa tercurah untukmu, wahai amirul mukminin. Kabarkan kepada kami tentang hal-hal yang terjadi sepeninggal kami." All berkata, "Istri-istri kalian sudah menikah lagi, kekayaan kalian sudah dibagi, anak-anak kalian berkumpul dalam kelompok anak-anak yatim, bangunan-bangunan yang kalian dirikan sudah ditempati musuh-musuh kalian. Inilah kabar dari kami, lalu bagaimana kabar kalian?" Salah satu mayat menjawab, "Kain kafan telah koyak, rambut telah rontok, kulit mengelupas, biji mata terlepas di atas pipi, hidung mengalirkan darah dan nanah. Kami mendapatkan pahala atas kebaikan yang kami lakukan dan mendapatkan kerugian atas kewajiban yang yang kami tinggalkan. Kami bertanggung jawab atas perbuatan kami." (Riwayat Al-Baihaqi)

Kisah Ke-3
            Dalam kitab Al-Tabaqat, Taj al-Subki meriwayatkan bahwa pada suatu malam, Ali dan kedua anaknya berada didekat Ka’bah, Hasan dan Husein r.a. mendengar seseorang bersyair:

Hai Zat yang mengabulkan doa orang yang terhimpit kezaliman…
Wahai Zat yang menghilangkan penderitaan, bencana, dan sakit …
Utusan-Mu tertidur di rumah Rasulullah sedang orang-orang kafir mengepungnya…
Dan Engkau Yang Maha Hidup lagi Maha Tegak tidak pernah tidur…
Dengan kemurahan-Mu, ampunilah dosa-dosaku…                 
Wahai Zat tempat berharap makhluk di Masjidil Haram…
Kalau ampunan-Mu tidak bisa diharapkan oleh orang yang bersalah…
Siapa yang akan menganugerahi nikmat kepada orang-orang yang durhaka.

            Ali lalu menyuruh putranya mencari si pelantun syair itu. Pelantun syair itu datang menghadap Ali seraya berkata, "Aku, ya Amirul mukminin!" Laki-laki itu menghadap sambil menyeret sebelah kanan tubuhnya, lalu berhenti di hadapan Ali. Ali bertanya, "Aku telah mendengar syairmu, apa yang menimpamu?" Laki-laki itu menjawab, "Dulu aku sibuk memainkan alat musik dan melakukan kemaksiatan, padahal ayahku sudah menasihatiku bahwa Allah memiliki kekuasaan dan siksaan yang pasti akan menimpa orang-orang zalim. Karena ayah terus-menerus menasihati, aku memukulnya.
            Karenanya, ayahku bersumpah akan mendoakan keburukan untukku, lalu ia pergi ke Mekkah untuk memohon pertolongan Allah. Ia berdoa, belum selesai ia berdoa, tubuh sebelah kananku tiba-tiba lumpuh. Aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan, maka aku meminta belas kasihan dan ridha ayahku. Lalu ia pun berjanji memohonkan Ampunan Allah untukku. Beliau pun memaafkanku. Ketika beliau bersiap hendak pergi kemekah lagi, aku menyiapkan kendaraan untuk dinaikinya. Akan tetapi ditengah perjalanan beliau terjatuh dari punggung untanya dan terantuk dibatu. Ayahku pun Meninggal ditempat itu. “
            Ali lalu berkata, "Allah akan meridhaimu, Jika ayahmu meridhaimu." Laki-laki itu menjawab, "Demi Allah, demikianlah yang terjadi." Kemudian Ali berdiri, shalat beberapa rakaat, dan berdoa kepada Allah dengan pelan, kemudian berkata, "Hai orang yang diberkahi, bangkitlah!" Laki-laki itu berdiri, berjalan, dan kembali sehat seperti sedia kala. Ali berkata, "Jika engkau tidak bersumpah bahwa ayahmu akan meridhaimu, maka aku tidak akan mendoakan kebaikan untukmu."

Kisah Ke-4

            Kisah lainnya menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw menyuruh Abu Dzar memanggil Ali. Sesampai di rumah Ali, Abu Dzar melihat alat penggiling sedang menggiling gandum sendiri, padahal tidak ada seorang pun di sana. Kemudian Abu Dzar menceritakan hal tersebut kepada Nabi Saw Beliau berkata, "Hai Abu Dzar! Tahukah kau bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat yang berjalan-jalan di bumi dan mereka diperintahkan untuk membantu keluarga Nabi Muhammad Saw." (kitab Is`af al-Raghibin)



Sumber: http://sobecan.blogspot.co.id/2015/07/kisah-sahabat-nabi-karomah-ali-bin-abi.html

Cerita Inspiratif Islam

Duhai Ukhti… Duhai Istri Sholehah… Aku Ingin Sepertimu…
Ini adalah kisah nyata.
Usia istri Yaqin masih sangat muda, sekitar 19 tahun. Sedangkan usia Yaqin waktu itu sekitar 23 tahun. Tetapi mereka sudah berkomitmen untuk menikah.
Istrinya Yaqin cantik, putih, murah senyum dan tutur katanya halus. Tetapi kecantikannya tertutup sangat rapi. Dia juga hafal Al-Qur’an di usia yang relatif sangat muda , Subhanallah…
Sejak awal menikah, ketika memasuki bulan kedelapan di usia pernikahan mereka, istrinya sering muntah-muntah dan pusing silih berganti… Awalnya mereka mengira “morning sickness” karena waktu itu istrinya hamil muda.
Akan tetapi, selama hamil bahkan setelah melahirkanpun istrinya masih sering pusing dan muntah-muntah. Ternyata itu akibat dari penyakit ginjal yang dideritanya.
Satu bulan terakhir ini, ternyata penyakit yang diderita istrinya semakin parah..
Yaqin bilang, kalau istrinya harus menjalani rawat inap akibat sakit yang dideritanya. Dia juga menyampaikan bahwa kondisi istrinya semakin kurus, bahkan berat badannya hanya 27 KG. Karena harus cuci darah setiap 2 hari sekali dengan biaya jutaan rupiah untuk sekali cuci darah.
Namun Yaqin tak peduli berapapun biayanya, yang terpenting istrinya bisa sembuh.
Pertengahan bulan Ramadhan, mereka masih di rumah sakit. Karena, selain penyakit ginjal, istrinya juga mengidap kolesterol. Setelah kolesterolnya diobati, Alhamdulillah sembuh. Namun, penyakit lain muncul yaitu jantung. Diobati lagi, sembuh… Ternyata ada masalah dengan paru-parunya. Diobati lagi, Alhamdulillah sembuh.
Suatu ketika , Istrinya sempat merasakan ada yang aneh dengan matanya.
“Bi, ada apa dengan pandangan Ummi?? Ummi tidak dapat melihat dengan jelas.” Mereka memang saling memanggil dengan “Ummy” dan ” Abi” . sebagai panggilan mesra.
“kenapa Mi ?” Yaqin agak panik
“Semua terlihat kabur.”
Dalam waktu yang hampir bersamaan, darah tinggi juga menghampiri dirinya… Subhanallah, sungguh dia sangat sabar walau banyak penyakit dideritanya…
Selang beberapa hari, Alhamdulillah istri Yaqin sudah membaik dan diperbolehkan pulang.
Memasuki akhir Ramadhan, tiba-tiba saja istrinya merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya, sangat sakiiit. Sampai-sampai dia tidak kuat lagi untuk melangkah dan hanya tergeletak di paving depan rumahnya.
“Bi, tolong antarkan Ummi ke rumah sakit ya..” pintanya sambil memegang perutnya…
Yaqin mengeluh karena ada tugas kantor yang harus diserahkan esok harinya sesuai deadline. Akhirnya Yaqin mengalah. Tidak tega rasanya melihat penderitaan yang dialami istrinya selama ini.
Sampai di rumah sakit, ternyata dokter mengharuskan untuk rawat inap lagi. Tanpa pikir panjang Yaqin langsung mengiyakan permintaan dokter.
“Bi, Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an, tapi penglihatan Ummi masih kabur. Ummi takut hafalan Ummi hilang.”
“Orang sakit itu berat penderitaannya Bi. Disamping menahan sakit, dia juga akan selalu digoda oleh syaitan. Syaitan akan berusaha sekuat tenaga agar orang yang sakit melupakan Allah. Makanya Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an agar selalu ingat Allah.
Yaqin menginstal ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam sebuah handphone. Dia terharu melihat istrinya senang dan bisa mengulang hafalannya lagi, bahkan sampai tertidur. Dan itu dilakukan setiap hari.
“Bi, tadi malam Ummi mimpi. Ummi duduk disebuah telaga, lalu ada yang memberi Ummi minum. Rasanya enaaak sekali, dan tak pernah Ummi rasakan minuman seenak itu. Sampai sekarangpun, nikmatnya minuman itu masih Ummi rasakan”
“Itu tandanya Ummi akan segera sembuh.” Yaqin menghibur dirinya sendiri, karena terus terang dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya itu.
Yaqin mencoba menghibur istrinya.
“Mi… Ummi mau tak belikan baju baru ya?? Mau tak belikan dua atau tiga?? Buat dipakai lebaran.”
“Nggak usah, Bi. Ummi nggak ikut lebaran kok” jawabnya singkat.
Yaqin mengira istrinya marah karena sudah hampir lebaran kok baru nawarin baju sekarang.
“Mi, maaf. Bukannya Abi nggak mau belikan baju. Tapi Ummi tahu sendiri kan, dari kemarin-kemarin Abi sibuk merawat Ummi.”
“Ummi nggak marah kok, Bi. Cuma Ummi nggak ikut lebaran. Nggak apa-apa kok Bi.”
”Oh iya Mi, Abi beli obat untuk Ummi dulu ya…??”
Setelah cukup lama dalam antrian yang lumayan panjang, tiba-tiba dia ingin menjenguk istrinya yang terbaring sendirian. Langsung dia menuju ruangan istrinya tanpa menghiraukan obat yang sudah dibelinya.
Tapi betapa terkejutnya dia ketika kembali . Banyak perawat dan dokter yang mengelilingi istrinya.
“Ada apa dengan istriku??.” tanyanya setengah membentak.
“Ini pak, infusnya tidak bisa masuk meskipun sudah saya coba berkali-kali.” jawab perawat yang mengurusnya.
Akhirnya, tidak ada cara lain selain memasukkan infus lewat salah satu kakinya. Alat bantu pernafasanpun langsung dipasang di mulutnya.
Setelah perawat-perawat itu pergi, Yaqin melihat air mata mengalir dari mata istrinya yang terbaring lemah tak berdaya, tanpa terdengar satu patah katapun dari bibirnya.
“Bi, kalau Ummi meninggal, apa Abi akan mendoakan Ummi?”
“Pasti Mi… Pasti Abi mendoakan yang terbaik untuk Ummi.” Hatinya seakan berkecamuk.
“Doanya yang banyak ya Bi”
“Pasti Ummi”
“Jaga dan rawat anak kita dengan baik.”
Tiba-tiba tubuh istrinya mulai lemah, semakin lama semakin lemah. Yaqin membisikkan sesuatu di telinganya, membimbing istrinya menyebut nama Allah. Lalu dia lihat kaki istrinya bergerak lemah, lalu berhenti. Lalu perut istrinya bergerak, lalu berhenti. Kemudian dadanya bergerak, lalu berhenti. Lehernya bergerak, lalu berhenti. Kemudian matanya…. Dia peluk tubuh istrinya, dia mencoba untuk tetap tegar. Tapi beberapa menit kemudian air matanya tak mampu ia bendung lagi…
Setelah itu, Yaqin langsung menyerahkan semua urusan jenazah istrinya ke perawat. Karena dia sibuk mengurus administrasi dan ambulan. Waktu itu dia hanya sendiri, kedua orang tuanya pulang karena sudah beberapa hari meninggalkan cucunya di rumah. Setelah semuanya selesai, dia kembali ke kamar menemui perawat yang mengurus jenazah istrinya.
“Pak, ini jenazah baik.” kata perawat itu.
Dengan penasaran dia balik bertanya.
“Dari mana ibu tahu???”
“Tadi kami semua bingung siapa yang memakai minyak wangi di ruangan ini?? Setelah kami cari-cari ternyata bau wangi itu berasal dari jenazah istri bapak ini.”
“Subhanalloh…”
Tahukah sahabatku,… Apa yang dialami oleh istri Yaqin saat itu? Tahukah sahabatku, dengan siapa ia berhadapan? Kejadian ini mengingatkan pada suatu hadits
“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).”
(HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah)
“Sungguh sangat singkat kebersamaan kami di dunia ini , akan tetapi sangat banyak bekal yang dia bawa pulang. Biarlah dia bahagia di sana” Air matapun tak terasa mengalir deras dari pipi Yaqin.



https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=563069953740156&id=270334219680399

Cerita Inspiratif

Kenapa Harus Wanita Shalihah?
Bismillah..
Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..
Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?
Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…
Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..
Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?
Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?
Aku menjawab..
Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.
Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..
Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..
Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..
Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?
Aku menjawab..
Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.
Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?
Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.
Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?
Pada akhirnya, akupun menjawab…
Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..
Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…
Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.
Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…
Seberat itukah?
Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=563110560402762&id=270334219680399

Cerita Inspiratif

Kitab Suci dan Kunci Mobil
Seorang pemuda sedang mempersiapkan wisuda setelah lulus dari ujian sidang. Selama berbulan-bulan ia telah mengagumi sebuah mobil yang bagus di sebuah dealer mobil. Ia tahu ayahnya pasti mampu membelikannya. Lalu pemuda itu menyampaikan keinginannya pada Ayahnya.
”Ayah, belikan aku mobil sebagai hadiah kelulusanku. Mobil itu akan kupakai untuk menjalankan bisnis yang sudah aku rancang, Ayah.”
Ayahnya hanya tersenyum.
Hari Wisuda makin mendekat. Pemuda itu tak sabar menunggu waktu saat ia mendapatkan mobil baru dari Ayahnya. Akhirnya, sore hari setelah acara wisuda di kampus, ayahnya memanggil anaknya ke ruang bacanya. Sang Ayah berkata,
“Anakku, aku sangat bangga padamu. Kamu telah memenuhi harapan Ayah. Aku sangat mencintaimu, Nak.”
Lalu Sang Ayah menyerahkan sebuah kado dengan bungkus cantik yang diikat dengan pita merah .
Pemuda itu penasaran. Dibukanya pelan-pelan kotak hadiah itu sambil tersenyum. Namun, mendadak raut muka pemuda itu berubah. Raut muka sangat kecewa terlukis di wajahnya. Ternyata dalam kotak itu dia tidak menemukan kunci mobil seperti yang diidam-idamkannya. Dia hanya menemukan sebuah Kitab Suci indah dengan ”cover” yang sangat bagus. Dengan nada emosi yang tinggi, Pemuda itu lalu melontarkan kekesalannya pada Ayahnya.
”Ayah, dengan semua kekayaan yang Ayah miliki, Ayah hanya memberikan hadiah Kitab ini?” Lalu pemuda itu meletakkan Kitab Suci di meja dan berlalu meninggalkan kamar Ayahnya.
Lima tahun berlalu. Pemuda itu sangat berhasil dalam bisnisnya. Dia juga memiliki keluarga serta mobil dan rumah mewah. Tapi dia baru menyadari bahwa ayahnya sudah sangat tua. Dia sangat rindu bertemu ayahnya. Dia kemudian memutuskan untuk menemui ayahnya yang sudah lama ditinggalkannya sejak peristiwa pemberian hadiah pasca wisuda.
Tak lama berselang ada pesan singkat pesan yang dikirim oleh kerabatnya. Ia menerima sebuah pesan yang menceritakan ayahnya meninggal dunia. Ayahnya berpesan agar pemuda itulah yang mewarisi hartanya. Dia diminta mengurus pemakaman ayahnya segera.
Lemas lunglailah pemuda itu. Dengan rasa sedih dia meluncur menuju rumah yang dulu dia dibesarkan bersama keluarganya. Ketika ia tiba di rumah ayahnya, kesedihan dan penyesalan begitu menyelimuti hatinya..
Setelah pemakaman usai, ia mulai mencari surat-surat penting ayahnya. Saat membereskan surat-surat itu, ditemukanlah sebuah kitab suci baru persis seperti yang hadiah yang diberikan ayahnya setelah dia diwisuda dulu. Dengan mata berkaca-kaca, ia membuka kitab suci itu lembar demi lembar.
Terbayang dalam hidupnya, Ayahnya selalu rajin membaca kitab suci seperti ini. Dia saja yang malas memenuhi perintah ayahnya untuk relajar membaca dan merenungi isinya. Dia malah menolak dan sangat tersinggung saat ayahnya menghadiahi kitab suci di hari istimewanya. Mungkin ayahnya menginginkan dia untuk berpegang pada ajaran agama dalam menjalani hidup daripada berambisi mencapai kesuksesan materi.
“Duh, sungguh aku anak tak berbudi dan tak berterima kasih pada-Mu, ya Tuhan.!” Serunya dengan nada penyesalan yang dalam.
Saat dia mencoba membaca ayat demi ayat dalam Kitab Suci itu, sebuah kunci mobil jatuh dari bagian belakang halaman Kitab Suci itu. Ternyata kunci mobil itu dilekatkan di halaman belakang dengan selotip oleh ayahnya. Ia juga menemukan secarik kertas yang tertulis nama dealer, dealer yang sama dengan tempat ia menginginkan mobil saat lupus kuliah. Pada lembaran itu tercantum pula tanggal wisudanya dan tertera stempel LUNAS.
***
Sahabat, mungkin seringkali kita banyak melewatkan berkah atau karunia yang datang dari-Nya. Kita melewatkan karunia-Nya karena ia datang dengan tampilan yang tidak menyenangkan dalam pandangan kita. Karunia itu kita acuhkan karena terbungkus pada peristiwa yang tidak kita harapkan. Kita melewatkan sebuah anugrah besar dalam hidup karena kita tak mampu menangkap sinyal kasih sayang dari-Nya. Pandangan kita terhadap karunia-Nya seringkali berlawanan dengan pandangan kasih sayang-Nya.
Sahabat, saat DIA ingin memberi kasih sayang melalui ayat-ayat dalam kitab suci-Nya kita mungkin merasa enggan membukanya. Ketika DIA membelai kita dengan ujian-Nya, kita merasa kecewa pada-Nya. Kala kesuksesan kita tertunda kita menganggap permintaan kita ditolak oleh-Nya. Jika ambisi kita tak terpenuhi dengan sempurna kita merasa DIA sudah mengabaikan usaha dan doa kita.
Untuk sebuah urusan materi, terkadang kita bisa mengabaikan tuntunan dari-Nya. Untuk sebuah cita-cita dunia kita merasa ajaran kitab suci akan mengekang kita. Padahal dengan berpegang pada kitab-Nya, kita bisa meraih semua kemudahan. Melalui petunjuk-Nya kita akan meraih kesuksesan. Dibalik kemulian ajaran yang tertulis dalam kitab-Nya tersimpan inspirasi da motivasi hidup yang tak pernah lekang oleh waktu dan situasi.
Sahabat, seringkali karuania-Nya terbungkus oleh kesakitan, penderitaan, kegagalan atau musibah. Pada setiap peristiwa dan tanda-tanda kekuasan-Nya terdapat ayat-ayat kasih sayang dari-Nya.



https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=563111967069288&id=270334219680399

Cerita Inspiratif

Kupinang Engkau Dengan Al-Qur`an
Tepat adzan Isya aku sampai di halaman masjid di sebuah komplek perumahan. Usai memarkirkan sepeda motorku di halaman masjid itu, aku bergegas mengambil air wudhu lalu sholat berjama'ah. Selepas sholat isya dan ba'diyahnya, aku kembali menuju halaman masjid tempat aku memarkirkan sepeda motorku.
Ada rasa yang mulai tak menentu kala itu. Karena setelah ini aku akan mengunjungi rumah seseorang. Seseorang yang telah dipilihkan oleh murobbiku, Ustadz Utsman. Seseorang itu adalah Fathiyya. Seorang akhwat lugu nan mempesona serta baik akhlaqnya. Ia tak banyak bicara dan pandangannya tertunduk jika ada ikhwan disekitarnya. Pakaiannya sederhana, tetapi jilbabnya istimewa. Hampir separuh bagian atas tubuhnya tertutup oleh balutan jilbabnya.
Sebelum meninggalkan halaman masjid itu, aku menyapa seorang jama'ah masjid,
"Assalaamu'alaikum, pak.."
"Wa'alaikumsalaam warohmatulloh.." jawabnya fasih.
"Maaf pak...saya mau tanya, barangkali Bapak tahu rumahnya Fathiyya?"
"Fathiyya yah? Kamu tahu siapa orangtuanya?"
"Kalau tidak salah, nama bapaknya, Haji Nashiruddin.."
"Bukan Nashiruddin, tapi Nashruddin..." jelasnya.
"I..iya..maaf pak, itu yang saya maksud.."
"Rumahnya deket dari sini. Di pertigaan itu kamu belok kiri.
Rumah ketiga disebelah kanan itu rumahnya.." kata beliau.
"Oh terimakasih pak.. Kalau begitu saya permisi duluan.." jawabku.
"Motornya dituntun aja, Mas.. Kita jalan kaki aja. Kebetulan bapak pulang ke arah situ juga." lanjutnya.
Demi menghormatinya, aku pun menuntun sepeda motorku dan kami berjalan ke arah yang sama. Setelah aku memperkenalkan diri, selama perjalanan kami terlibat pembicaraan seputar kondisi pemuda muslim akhir-akhir ini. Menurut beliau pemuda zaman sekarang sudah jarang sekali yang masih peduli terhadap shalat, apalagi berjama'ah di masjid.
"Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang mengaku muslim, tetapi belum bisa baca Al Qur'an dengan baik" tambahnya. Dan aku hanya meng-iya-kan saja karena memang begitu keadaannya.
Tak begitu lama kami pun sampai di depan sebuah rumah. Sederhana, pagarnya pun tidak begitu tinggi sehingga aku bisa melihat pekarangan rumahnya. Tidak banyak perhiasan di halamannya selain rimbunnya tanam-tanaman dan beberapa pohon di sana.
"Di sini tempat tinggal Fathiyya.." ungkap beliau memutus perbincangan kami.
"Oh ya.. Terimakasih sudah berkenan mengantar saya, pak.." jawabku.
Mendengar jawabanku beliau malah tersenyum dan segera berlalu mendekati pintu pagar lalu membukanya.
"Motornya simpan di dalam aja, Nak 'Ali.." ujarnya.
Kontan saja perasaanku tak menentu karena sikap beliau. Tadi bapak ini memanggilku dengan panggilan 'Mas' sekarang beliau malah memanggilku dengan panggilan 'Nak'. Jangan-jangan..???
"Ayo..bawa masuk motornya." suara beliau memecah keherananku.
"I..iya..pak..." jawabku dengan suara yang mulai nampak gugup.
Beliau kemudian menghampiri pintu rumah itu dan..
"Assalaamu'alaikum..! Fathiyya Mas 'Alinya udah dateng nih..!"
Perasaanku tak karuan. Aku merasa bahwa sepanjang perjalanan dari masjid tadi aku berbincang dengan seseorang yang namanya salah kuucapkan, Pak Haji Nashruddin, bapaknya Fathiyya..!
Tidak lama kemudian terdengar suara lembut dari dalam..
"Wa'alaikumsalaam warohmatullah.."
Aku mengenal suara lembut itu, sama seperti suara lantunan murottalnya Fathiyya yang kudengar dari ruang sebelah ketika di rumah Ustadz Utsman. Karena di sanalah kami selalu mengadakan 'liqo' (pertemuan). Para ikhwan di ruang depan, sementara para akhwat di ruang tengah. Ya..suara lembut itu, suara Fathiyya.
Dari balik jendela bertirai itu aku melihat samar-samar sosok akhwat menuju pintu keluar. Menyalami lalu mencium tangan beliau.
"Ayah tumben pulang dari masjidnya lebih awal...?" lanjut akhwat yang ternyata adalah Fathiyya.
"Ayah???" hentakku dalam bathin. Benar dugaanku, beliaulah Pak Haji Nashruddin.
Dan aku tak ingat lagi apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Karena pikiran dan perasaanku kian tak menentu. Kakiku pun rasanya berat untuk dilangkahkan. Dan tiba-tiba..
"Ayo Nak 'Ali..nuggu apa di situ? Mari masuk..!" kata pak H. Nashruddin mengejutkanku.
Singkat cerita, aku sudah berada di ruang tamu rumah itu. Duduk tepat dihadapan Ayahnya Fathiyya. Ada rasa bersalah jika kuingat kejadian di masjid tadi. Hingga aku pun mengutarakan rasa bersalahku.
"Saya mohon maaf pak..tadi sewaktu di masjid..saya kira.."
"Sudah, sudah..enggak apa-apa!" ucapnya memutus perkataanku yang semakin gugup.
"Enggak ada yang salah kok, dan enggak perlu minta maaf.." sambungnya.
Namun tetap saja perasaanku tidak enak, ditambah lagi rasa gugup yang menyelimutiku. Sehingga bathinku terus menerus membisikkan do'a,
"Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS Thohaa : 25-28)
Kami pun mulai berbincang kembali. Ternyata beliaulah yang meminta melalui Fathiyya agar Ustadz Usman menyuruhku datang kerumahnya. Untuk sekedar bershilaturrahiim dan mungkin memastikan keseriusan niat suci kami. Selanjutnya beliau menanyakan tentang asal-usulku juga asal-usul keluargaku. Lalu tentang aktifitas kerjaku dan kesibukkanku yang lainnya.
Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba Fathiyya datang dengan sebuah nampan di tangannya. Di atas nampan itu ada dua gelas minuman yang tampak masih hangat. Baru kali ini aku bisa melihat Fathiyya dari jarak yang cukup dekat. Yaitu saat ia menaruh gelas satu-persatu ke atas meja yang berada diantara aku dan Ayahnya. Kalau boleh jujur, sebetulnya Fathiyya tidak begitu cantik, kulitnya pun tidak begitu putih. Ia berwajah manis dengan kulit sawo matang. Serta balutan jilbab di tubuhnya membuatnya nampak begitu mempesona.
"Ehm ehem..silakan diminum Nak 'Ali.." suara Pak Nashruddin mengalihkan keterpanaanku pada Fathiyya.
"O..iya..Pak, makasih..." jawabku terkejut.
Kuperhatikan lagi sekilas wajah Fathiyya tersenyum simpul. Mungkin dia menertawakan kegugupanku. Membuat debaran di dalam dadaku kian kencang.
Perbincangan pun berlanjut. Kali ini beliau menanyakan kepastianku untuk menunaikan niat suciku pada putrinya. Menggenapkan separuh agamaku bersama putri semata wayangnya, Fathiyya. Hingga akhirnya aku menyatakan diri untuk melamar putrinya.
"Bapak sih tergantung Fathiyya. Yang penting, calon imam Fathiyya kelak harus bisa ngaji Al Quran dengan baik dan benar! Supaya dia bisa membimbing Fathiyya menjadi istri yang shalihah. Nah kalau tidak keberatan, Bapak ingin kamu membacakan beberapa ayat saja. Surat Luqman ayat 12 sampai 15." sambil menyerahkan Al Quran cetakan Timur Tengah.
Saat kuterima Al Quran dari tangan beliau, desiran kegugupanku semakin kencang. Ia menjalar ke setiap sel-sel di tubuhku. Aku mulai merasakan keringat dingin meliputiku. Mendadak aku lupa surat Luqman urutan ke berapa. Apalagi di Al Quran cetakan Timur Tengah, tidak dicantumkan nomor surat di setiap surat-suratnya. Lembar demi lembar mushafnya kususuri, hingga kutemukan ayat yang dimaksud. QS Luqman ayat 12 - 15.
Dengan teliti dan berhati-hati, aku mulai membaca ayat demi ayat yang diminta beliau. Kubaca dengan sepenuh kemampuanku. Huruf demi huruf, tajwid demi tajwid, kubaca sebaik mungkin.
Selesai membaca rangkaian ayat tersebut, ku angkat pandanganku dari mushaf ke arah beliau. Kulihat beliau hanya termenung tanpa sedikit pun ekspresi diwajahnya. Sesekali beliau mengangguk-anggukan kepala. Entah apa yang akan dikatakan beliau.
"Mmmh...suaranmu bagus! Murottalmu juga enak didengar! Tidak menjenuhkan meskipun bacaannya panjang. Tapi..ada beberapa hal yang harus kamu sempurnakan."
Mendengar pernyataan beliau, rasa gugup di dadaku kini mulai menyebar ke arah kepalaku.
"MasyaAllah..." ungkapku membathin, ternyata bacaanku belum sempurna menurut beliau.
"Pertama..Makhorijul hurufmu kadang meleset. Harus jelas beda antara Syin dan Shod, Dzal dan Dal, Zay dan Zho, Tsa dan Sin, juga huruf yang lainnya..."
"Astaghfirullah...seburuk itukah makhorijul hurufku" kataku dalam hati.
Hal yang nampak sepele menurutku, tapi justru itu malah jadi kesalahan pertamaku.
"Kedua..Mad mu juga tidak istiqomah. Mana Mad Ashli, mana Mad Arid Lisukun. Mad ashli kamu jadikan Mad Jaiz, Mad Arid Lisukun malah kamu jadikan Mad Ashli. Kadang Mad Ashli tidak kamu baca panjang.."
Rasa gugup yang menyelimuti kepalaku kini serasa meledak di dalamnya.
"Ketiga..ikhfa mu masih ada yang terdengar izhar. Lalu perhatikan mana tanda waqof, mana tanda washol. Teruus....."
Suara beliau kini tak dapat kuperhatikan lagi. Karena ledakkan dalam kepalaku seakan meluluh lantahkan isinya. Keringat dingin pun kian menderas disekitar kerah bajuku. Jasadku mungkin dihadapan beliau, tetapi jiwaku entah kemana, seakan menghindari keadaan yang begitu memalukan menurutku. Dan entah apa lagi yang diucapkan beliau, yang pasti banyak kekurangan yang harus kusempurnakan.
"Kamu baik-baik aja, Nak 'Ali..?" tanya beliau menyadarkan aku dari kegalauan.
"I..iya..ustadz, eh Pak.." jawabku semakin kacau.
"Ya sudah..mungkin kamu lagi kurang enak badan hari ini. Bapak hanya mau menyarankan kamu supaya kamu mau belajar lagi menyempurnakan bacaanmu. Kamu bisa hubungi keponakan Bapak, dia seorang pengajar Al Quran di MAQDIS, ini kartu namanya." kata beliau sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
Dalam perasaan yang tak dapat lagi kugambarkan itu, aku berusaha meraih kartu nama yang diserahkan beliau. Tapi tanganku terasa berat meraihnya. Kartu nama yang sudah sampai ditanganku pun seakan terasa berat. Lalu kubaca, di sana tertulis nama "Utsman Fathurrahman, S.Ag."!
"Ustadz Utsman...?!" ucapku dengan spontan, terkejut.
"Ya...Ustadz Utsman, dia putra dari adik sepupu Bapak" jawab beliau.
Bukankah Ustadz Utsman itu adalah murobbiku? Dan istrinya adalah murobbi Fathiyya. Ternyata Ustadz Utsman masih ada hubungan kerabat dengan keluarga Fathiyya. Aku baru tahu.
"Kamu mnengenalnya bukan?" tanya beliau.
"Iya Pak..saya kenal sekali Ustadz Utsman. InsyaAllah saya akan belajar lebih baik lagi kepada beliau.."
"Bagus, kalau begitu. Bapak senang melihat pemuda yang semangat dalam mencari ilmu."
"Jadi...kapan saya harus kesini lagi Pak..?" tanyaku ingin segera mengakhiri perbincangan.
"Untuk apa...?" jawabnya singkat.
"Di test ngaji lagi?"
"Oh..enggak perlu, untuk apa di test lagi..???"
Bagai halilintar di tengah siang, pikiranku meledak lagi. Semua rasa yang tak dapat kugambarkan lagi menyerang seluruh isi ragaku. "Aku ditolak..!" bisikku dalam bathin. Ingin rasanya aku segera pergi meninggalkan rumah ini. Meninggalkan rasa-rasa yang kubenci ini. Meninggalkan harapan niat suciku bersama Fathiyya.
"O iya..titip salam buat orangtuamu, dari kami." lanjut beliau menyadarkan aku.
"InsyaAllah..Pak...nanti saya sampaikan." jawabku lirih.
"Sampaikan juga pada mereka, kapan bisa shilaturrahim kesini? Untuk memastikan kapan kamu dan Fathiyya melangsungkan akad nikah.."
Subhanallah..!!! Kali ini entah apa yang aku rasakan. Semua rasa yang menekan ku dari tadi, kini telah sirna begitu saja. Berganti menjadi rasa yang entah bagaimana aku harus menggambarkannya.
"Jadi..maksud Bapak..lamaran saya diterima???" tanyaku dengan rasa gugup bercampur gembira.
"Memangnya siapa yang menolak lamaran kamu, Nak 'Ali...? Bukankah Nabi kita SAW mengingatkan,
'Kalau datang lelaki yang kalian sukai karena agamanya, untuk melamar putri kalian, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian tersebut. Kalau kalian tidak menikahkan mereka, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi.'.
Jadi tidak ada alasan lagi untuk Bapak ataupun Fathiyya menolak lamaran kamu."
Alhamdulillah..akhirnya pinanganku diterima. Meskipun dengan bacaan yang belum sempurna menurut beliau. Menuntutku untuk belajar lebih baik lagi. Menyempurnakan lagi bacaanku hingga tiba waktunya kami genapkan separuh agama kami.
Fathiyya...kupinang engkau dengan Al Quran.

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=564143140299504&id=270334219680399