f MAKALAH KARAKTERISTIK ILMU TASAWUF DAN PENELITIANNYA ~ Urwatun Wursqa

Jumat, 14 Oktober 2016

MAKALAH KARAKTERISTIK ILMU TASAWUF DAN PENELITIANNYA

MAKALAH
KARAKTERISTIK ILMU TASAWUF DAN PENELITIANNYA

Disusun oleh:
Ali Mutohar (16350039, AS-A)
A. Akhil Adib (16350040, AS-A)

PROGRAM STUDI  AL AHWAL AL SYAKHSIYAH
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2016



KATA PENGANTAR
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Karakteristik Ilmu Tasawuf dan Penelitiannya”. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada seorang tokoh yang tidak pernah menokoh namun imannya paling kokoh, Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang dengan agama yang di ridhoi-Nya, yaitu agama islam.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf, Jurusan Al Ahwal Al Syakhsiyah, Fakultas Syari’ah dan hukum, Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dengan selesainya makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang penulis miliki dan kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah pada waktu dan kesempatan berikutnya.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah yang sedehana ini dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya penulis dan pembaca pada umumnya.
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................ ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.         Latar Belakang ..........................................................................................1
2.          Rumusan Masalah ................................................................................... 2
3.         Manfaat dan Tujuan  ................................................................................ 2
BAB II. PEMBAHASAN
1.         Pengertian Tasawuf................................................................................... 3
2.         Karakteristik Tasawuf .............................................................................. 5
3.         Penelitian tasawuf .................................................................................... 8
BAB III. PENUTUP
1.         Kesimpulan............................................................................................. 16
2.         Saran........................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 18








BAB I
PENDAHULUAN
1.   Latar Belakang
Tasawuf sekarang bukan hal yang asing lagi bagi indra pendengar kita. Istilah tasawuf yang dulu hanya dikenal oleh para santri atau orang yang belajar agama di pondok pesantren  sekarang  telah menjadi istilah yang masyhur di kalangan para mahasiswa di berbagai penjuru tanah air, bahkan penjuru dunia dan kini akhlak dan tasawuf menjadi mata kuliah yang di ajarkan di perguruan tinggi islam baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pada dasarnya tasawuf adalah upaya para ahlinya untuk mengembangkan semacam disiplin (riyâdhah) spiritual, psikologis, keilmuan dan jasmaniah yang dipercayai mampu mendukung proses penyucian jiwa atau hati.[1]
 Meskipun istilah tasawuf sudah begitu masyhur, namun masih banyak masyarakat yang belum mengetahui apa makna tasawuf, baik dari kalangan yang berpendidikan rendah sampai kalangan yang berpendidikan tinggi sekalipun.
Mereka mempunyai pandangan yang berbeda-beda satu sama lain akan makna dan tujuan tasawuf. Ada yang pandangannya sesuai makna dan tujuan tasawuf yang sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW. Namun tidak sedikit yang mempunyai pandangan yang bertentangan dengan makna dan tujuan tasawuf. Hal ini terjadi karena perbedaan guru, filsafat, dan kebudayaan dalam berbagai kurun-masa.
Selain hal-hal tersebut, perbedaan pengalaman para sufi membuat pandangan para sufi dan pengikutnyapun berbeda. Perbedaan itu menjadikan banyak karakteristik dalam perkembangan ilmu tasawuf serta penelitian yang dilakukan para sufi dan peneliti ilmu tasawuf berbeda.

2.   Rumusan Masalah
a.       Apa Pengertian tasawuf?
b.      Bagaimana karakteristik tasawuf?
c.       Siapakah para ahli yang telah melakukan upaya penelitian tasawuf?
d.      Bagaimanakah  metode-metodenya?

3.   Maksud dan Tujuan
a.       Mengetahui pengertian tasawuf secara bahasa dan istilah.
b.      Mengetahui karakteristik tasawuf.
c.       Mengetahui para tokoh yang melakukan penelitian tasawuf.
d.      Mengetahui metode penelitian tasawuf.

















BAB II
PEMBAHASAN
1.     Pengertian Tasawuf
Pada dasarnya tasawuf adalah upaya para ahlinya untuk mengembangkan semacam disiplin (riyâdhah) spiritual, psikologis, keilmuan dan jasmaniah yang dipercayai mampu mendukung proses penyucian jiwa atau hati sebagaimana di perintahkan dalam kitab suci tersebut.[2]
Abdul Wafa Taftazani mengatakan bahwa tasawuf adalah gerakan akhlak yang dikembangkan dari akidah-akidah Islam. Tujuan tasawuf adalah keinginan yang kuat untuk merasa dekat dengan Allah yang tercantum dalam hadist Nabi Muhammad SAW: “Dan hambaku terus menerus bertaqarrub/mendekat kepadaku dengan perbatan-perbuatan baik sehingga aku mencintainya”. Siapa yang Aku cintai maka Aku akan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan tangan baginya.
Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Thusi atau yang kita kenal dengan sebutan Imam Al-Ghazali memberikan definisi bahwa tasawuf adalah ilmu yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri kepada Allah SWT.Tasawwuf adalah budi pekerti barang siapa yang memberikan budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu dalam bertasawwuf, maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan suluk dengan nur (petunjuk) islam dan ahli zuhud yang jiwanya menerima (Perintah) untuk melakukan beberapa akhlq (terpuji), karena mereka telah melakukan suluk nur dengan nur (petunjuk) imannya.
Menurut wikipedia bahasa indonesia Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (Bahasa arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme islam. Dengan kata lain tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara mensucikan jiwa.
Dari beberapa pengertian diatas, penulis mengambil pengertian bahwa tasawuf adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana cara mensucikan diri agar dapat bertaqarrub/ mendekatkan diri kepada Allah.

2.      Karakteristik Tasawuf
Ada dua bentuk atau karakteristik tasawuf yaitu tasawuf yang bercorak religius dan tasawuf yang bercorak filosofis. Tasawuf yang bercorak religius adalah semacam gejala yang tibul  dalam semua agama, baik di dalam yang diakui di dunia maupun agama yang tidak diakui dunia.
Begitu juga dengan tasawuf filosofis, yang sejak lama telah dikenal di dunia timur sebagai warisan filsafat orang-orang yunani, maupun di Eropa abad pertengahan ataupun modern. Hal ini dapat kita lihat pada beberapa sufi Muslim atau banyak mistikus Kristen. Karena itu pada diri seorang filosof, terjadinya perpaduan antara kecenderungan intelektual dan kecenderungan mistis merupakan sesuatu yang tidak asing lagi.
Secara umum karakteristik tasawuf adalah sebagai berikut:
a.       Tasawuf yang bertujuan untuk pembinaan aspek moral. Aspek ini meliputi mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia konsisten dan komitmen hanya kepada keluhuran moral.  Tasawuf seperti ini bersifat praktis.
b.      Tasawuf yang bertujuan untuk ma’rifatullah melalui peyingkapan langsung (kasyf al-hijab). Tasawuf ini bersifat teoritis dengan seperangkat ketentuan khusus yang diformulasikan secara sistematis analitis.
c.       Tasawuf yang bertujuan membahas bagaimana system pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah secara mistis filosofis. Arti dekat dengan Tuhan terdapat tiga simbolis, yaitu: dekat dalam arti melihat dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hati, dekat dalam arti berjumpa dengan Tuhan sehingga terjadi dialog antara manusia dengan Tuhan,  dekat dalam arti penyatuan manusia dengan Tuhan sehingga terjadi adalah monolog antara manusia yang telah menyatu dengan idarat Tuhan.

Dibawah bentuk atau karakteristik tasawuf menurut para tokoh tasawuf dunia:
a.      William James, seorang ahli ilmu jiwa Amerika, mengatakan bahwa kondisi-kondisi Tasawuf selalu ditandai oleh empat karakteristik sebagai berikut :
1.      Sebagai suatu kondisi pemahaman (noetic). Sebab, bagi para penempuhnya ia merupakan kondisi pengetahuan serta dalam kondisi tersebut tersingkaplah hakekat realitas yang baginya merupakan ilham, dan bukan merupakan pengetahuan demonstratif.
2.      Sebagai suatu kondisi yang mustahil dapat dideskripsikan atau dijabarkan. Sebab ia semacam kondisi perasaan (states of feeling), yang sulit diterangkan pada orang lain dalam detail kata-kata seteliti apa pun.
3.       Ia merupakan suatu kondisi yang cepat sirna (transiency). Dengan kata lain, dia tidak berlangsung lama tinggal pada sang sufi atau mistikus, tapi ia menimbulkan kesan-kesan sangat kuat dalam ingatan.
4.       Ia merupakan suatu kondisi pasif (passivity).Dengan kata lain, seorang tidak mungkin menumbuhkan kondisi tersebut dengan kehendak sendiri. Sebab, dalam pengalaman mistisnya, justru dia tampak seolah-olah tunduk di bawah suatu kekuatan supernatural yang begitu menguasainya.
b.      R. M. Bucke mengatakan terdapat tujuh karakteristik di dalam tasawuf, yaitu ;
1.      Pancaran diri subyektif (subyective light).
Seseorang yang mengamalkan tasawuf secara benar sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW pasti akan mempunyai perilaku yang baik karena telah mengalami kebaikan yang telah dilakukan.
2.        Peningkatan moral (moral elevation).
Seseorang yang telah mempelajari dan memahami ilmu tasawuf dengan benar dipastikan akan meningkat moralnya dikarenakan tasawuf tersebut memberikan ajaran yang baik baik yang mempelajarinya.
3.       Kecemerlangan intelektual (intelektual illumination).
Sudah menjadi hal yang wajar bagi seorang sufi mempunyai intelektual yang cemerlang. Hal itu karena mereka senantiasa untuk mendekatkan diri dan memohon kepada sang pencipta agar diberi kecerdasan intelekyual.
4.      Perasaan hidup kekal (sence of immotality).
Para sufi mempunyai perasaan hidup yang kekal adalah hal yang wajar menurut mereka, karena mereka menganggap bahwa Allah akan menjadikannya mereka kekal sebab telah dekat dengan-Nya. Namun bagi kalangan bukan sufi perasaan hidup kekal tersebut tidak ada, karena Allah pasti akan mematikan semuia makhluk tanpa terkecuali.
5.      Hilangnya perasaan takut mati (loss of fear of death).
Para sufi mempunyai perasaan tidak takut mati karena mereka beranggapan bahwa dirinya akan masuk surga. Hal itu dikarenakan mereka telah dekat dengan Allah Tuhan pencipta alam.
6.      Hilangnya perasaan dosa (loss of sense of sin).
Pelaku sufisme menganggap bahwa dosanya yang telah dilakukan akan dihilangkan karean mereka beranggapan bahwa Tuhan akan menghapus segala dosa manusia yang telah bertobat dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.
7.      Ketiba-tibaan (suddynness).

c.    Bertrand Russell, setelah menganalisa kondisi-kondisi tasawuf, telah berusaha untuk membatasi ciri-ciri flosofis tasawuf kedalam empat karakteristik yang menurutnya akan membedakan tasawuf dari filsafat-filafat lainya, pada semua kurun-masa dan di seluruh penjuru dunia. Empat karakteristik itu ialah sebagai berikut ;
1.      Keyakinan atas intuisi (intuition) dan pemahaman batin (insight)sebagai metode pengetahuan, sebagai kebalikan dari pengetahuan rasional analitis.
2.      Keyakinan atas ketunggalan (wujud), serta pengingkaran atas kontradiksi dan diferensiasi, bagaimana pun bentuknya.
3.       Pengingkaran atas realitas zaman.
4.      Keyakinan atas kejahatan sebagai sesuatu yang hanya sekedar lahiriah dan ilusi saja, yang dikenakan kontradiksi dan diferensiasi, yang dikendalikan rasio analitis.

3.      Peneliti Tasawuf
a.      Sayyed Husein Nasr
Sayyed Husein Nasr lahir di Teheran, Iran,7 April 1933. Beliau  adalah salah satu ilmuan yang sangat masyhur dan banyak melahirkan berbagai macam karya ilmiah. Sejarah  mencatat bahwa Sayyed Husein Nasr  adalah seorang ilmuan muslim ke-6 di abad modern  yang memlakukan penelitian dalam bidang tasawuf.
Beliau berhasil membuat karya ilmiah yang di tuliskan dalam bukunya yang berjudul “Tasawuf Dulu dan Sekarang” yang sekarang sudah diterjemahkan oleh Abdul Hadi WM dan diterbitkan oleh pustaka firdaus di Jakarta tahun 1985 silam.
Dalam penelitiannya beliau menggunakan metode penelitian dengan pendekatan tematik, yaitu Ia menggunakan metode penelitian dengan pendekatan tematik, yaitu pendekatan yang mencoba menyajikan ajaran tasawuf sesuai dengan tema-tema tertentu.
Beliau melakukan penelitian secara kualitatif dengan dasar studi kritis terhadap ajaran tasawuf yang pernah berkembang dalam sejarah tasawuf dunia. Beliau mengungkapkan bahwa tasawuf merupakan sarana untuk menjalin hubungan yang instens dengan  Tuhan dalam mencapai ketuhanan. Beliau juga mengungkapkan tingkatan-tingkatan kerohanian manusia dalam dunia tasawuf.

b.      A. J. Arberry
A.J.  Arberry merupakan salah seorang peneliti islam di barat yang sangat terkenal, dia banyak melakukan penelitian dalam bidang studi keislaman, termasuk dalam penelitian tasawuf. Dalam bukunya “pasang surut aliran tasawuf”, Arberry mencoba menggunakan pendekatan kombinasi, yaitu antara pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh.
Dengan pendekatan tersebut dia mencoba kemukakan tentang firman Allah, kehidupan nabi, para zahid, para sufi, para ahli teori tasawuf, sruktur teori dan amalan tasawuf , tarikat sufi, teosofi dalam aliran tasawuf serta runtuhnya aliran tasawuf.
Dari isi penelitiannya itu, tampak bahwa Arberry menggunakan analisis kesejarahan, yakni berbagai tema tersebut dipahami berdasarkan konteks sejaranya, dan tidak dilakukan proses aktualisasi nilai atau mentranformasikan ajaran-ajaran tersebut ke dalam makna kehidupan modern yang lebih luas.

c.       Prof. Dr. Harun Nasution
Harun Nasution  lahir pada tanggal 23 September 1919 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Beliau adalah seoranr tokoh yang terenal dengan ide pembaharuannya. Selain itu Harun Nasution juga  merupakan guru besar dalam bidang teologi dan filsafat islam serta  menaruh perhatian yang besar terhadap penelitian di bidang tasawuf.
Dalam bukunya yang berjudul filsafat dan mistisisme dalam islam, ia menggunakan metode tematik, yakni penyajian ajaran tasawuf disajikan dalam tema jalan untuk dekat kepada Tuhan dengan berbagai cara yaitu
1.      Taubat,  merupakan kembali ke jalan yang di ridhoi Allah SWT, yang merupakan jalan pertama untuk dekat kepada Allah SWT
2.      Wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang mengandung syubhat (kesamaran) di dalamnya. Menurut Abdul Halim wara’ adalah  kehati-hatian di dalam perkataan, hati nurani dan perbuatan
3.      Zuhud, adalah meninggalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia dan memfokuskuskan diri untuk kehidupan akhirat yang kekaldengan meningkatkan ibadah kepada Allah.
4.      Mahabbah, memleluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-NYA, menyerahkan seeluruh diri kepada yang dikasih dan mengisongkan diri dari segala sesuatu kecualidari diri yng dikasihi.  Maqam mahabbah dialami oleh Rabi’ah Al-Adawiyah.
5.      Fana, melebur nafsu jasmani mereka di dalam peniadaan diri dan menjadi hapus dari segala yang berada di bawah-Nya.
6.      Baqa, memandang ke kanan mereka lihat Tuhan dan jika mereka memandang ke kiri mereka juga melihat Tuhan. Mereka melihat-Nya di dalam keadaan apapun. Mereka hidup kekal di dalam kebaqaan-Nya.
7.      al-ma’rifat, semua makhluk dari dua dunia dan dalam diri semua orang mereka melihat Tuhan, dan tak ada keluhan yang timbul karena penglihatannya.
8.      al-ittihad, seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu.
9.      Hulul, secara harifah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiannya melalui fana. Dengan kata lain hulul sebagai suatu tahap dimana manusia dan Tuhan menyatu secara Rohaniah.
10.   Wahdat al-wujud, adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal, atau kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud antara pelaku sufi dengan tuhannya tanpa ada jarak sedikitpun.

Penelitiannya itu memberikan hasil bahwa komunikasi dengan Tuhan dapat di­lakukan melalui daya rasa manusia yang berpusat di lubuk hati sanubari. Efek dari komunikasi tersebut adalah memberikan  kesadaran bagi manusi sufi untuk senantiasa mensucikan diri dari perbuatan tercela.
Hakekat tasawuf beliau adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam agama Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia sesuai dengan firman Allah di dalam al-Qur'an dan Hadits. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan, "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil."
Ayat berikutnya surah Al-Qaf ayat 16, menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia, "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia, tetapi di dalam diri manusia sendiri. Karena itu hadis mengatakan, "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya."
Dalam ayat-ayat tersebut Allah menegaskan bawa Dia sangat dekat dengan hamba-Nya, dan para sufi menganggap ayat tersebut sebagai penyatu antara Tuhan dengannya.
Tidak sedikit para sufi menganggap bahwa sufi  melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut, "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka Kuciptakan makhluk, dan melalui mereka Aku-pun dikenal."
Dari anggapan tersebutlah yang membuat makna dari ayat tersebut disalah pengertiankan, karena perbuatan manusia bukanlah perbuatan tuhan. Akan tetapi sebuah qada dan qodhar Allah SWT.

d.      Mustafa Zahri
Mutafa Zahri memusatkan perhatiannya terhadap tasawuf dengan menulis buku berjudul “kunci memahami ilmu tasawuf”. Penelitiannya bersifat ekploratif, yakni menggali ajaran tasawuf dari berbagai literatur ilmu tasawuf. Ia menekankan pada ajaran yang terdapat dalam tasawuf berdasarkan literatur yang ditulis oleh para ulama terdahulu serta dengan mencari sandaran pada al-qur’an dan hadits.
 Ia menyajikan tentang kerohanian yang di dalamnya dimuat tentang contoh kehidupan nabi, kunci mengenal Allah, sendi kekuatan batin, fungsi kerohanian dalam menenteramkan batin, serta tarekat dan fungsinya. Beliau juga menjelaskan tentang bagaimana hakikat tasawuf, ajaran makrifat, do’a, dzikir dan makna lailaha illa Allah. Beliau menjelaskan bahwa konsep fana dan baqa saling berkaitan dengan ittihad dan tidak dapat terpisahkan.
Didalam bukunya beliau menerangkang bahwa tasawuf adalah dasar pokok kekuatan bathin, pembersih jiwa, pemupuk iman, penyubur amal saleh semata-mata mencari keridhaan Allah, memperkuat daya juang dengan sifat-sifat sabar dab syukur, ridha bil qadha, suhud dan ikhlas, yang semuanya itu adalah sifat-sifat yang bernilai tinggi. Membina tata hidup dan penghidupan, terutama untuk membina mental pembangunan atas dasar-dasar ajaran Tasawuf, maka Islam akan lebih mampu membangun kemajuan dunia dan terutama pada pembangunan Nasional kita sekarang ini.
Selain itu didalam bukunya, beliau menjelaskan bahwa tasawuf merupakan salah satu bagian dari ajaran Islam, yang secara keilmuan lahir di kemudian hari melalui proses yang panjang dengan dinamikannya sendiri. Kelahirannya sebagai perwujudan dari pemahaman al-Qur’an dan al-hadis, sesuai dengan konteks zamannya.Tasawuf adalah bagian dari syari’at Islamiah memiliki tanggung jawab terhadap permasalahan sosial. Ajaran pokok tasawuf yakni tentang Tuhan, manusia, dan dunia menjadi dasar penting dalam menjawab dan menghadapi hiruk pikuk kehidupan dunia saat ini.


e.       Kautsar Azhari Noor
Kautsar Azhari Noor adalah salah satu dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Indonesia , dan Universitas Paramadina, Jakarta . Ia banyak menulis artikel ilmiah tentang perbandingan agama, filsafat, dan tasawuf di berbagai jurnal. Salah satu judul bukunya adalah wahdat al-wujud dalam perdebatan dengan studi dengan tokoh dan pahamnya yang khas, Ibn Arabi dengan pahamnya wahdat al- wujud.
Paham ini timbul dari paham bahwa Allah sebagaimana yang diterangkan dalam uraian tentang hulul, ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Oleh karena itu, dijadikan-Nya alam ini. maka alam ini merupakn cermin bagi Allah. Dikala Ia ingin melihat dirinya, ia melihat kepada alam.[3]
Paham ini telah menimbulkan kontroversi di kalangan para ulama, karena paham tersebut dinilai membawa reinkarnasi, atau paham serba Tuhan, yaitu Tuhan menjelma dalam berbagai ciptanya. Dengan demikian orang-orang mengira bahwa Ibn Arabi membawa paham banyak Tuhan. Mereka berpendirian bahwa Tuhan dalam arti zat-Nya tetap satu, namun sifat-Nya banyak. Sifat Tuhan yang banyak itupun dalam arti kualitas atau mutunya, berbeda dengan sifat manusia.[4]

f.       Ahmad Amir Maksum
Ahmad Amir Maksum adalah salah satu mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mendapatkan gelar sarjana filsafat islam pada tahun 2010 . Beliau menulis skripsi dan memberi kesimpulan bahwa Tasawuf  tidak bisa memgembangkan budaya tauhid. Alasannya disamping  mempercayai keesaan Tuhan, kaum sufi juga menyembah dan memitoskan wali, seperti wali Songo.
 Apalagi setelah berkembangnya menjadi banyak ordo atau tariqat, akibatnya hanya tinggal komat-kamit zikir di dalam masjid, sehingga umat Islam ketinggalan zaman, urai Simuh yang dikenal banyak melakukan penelitian dibidang tasawuf bahwa tasawuf tidak hanya melulu pada yang di atas, Tuhan. Melainkan juga harus bersosialisasi hidup bersahaja dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik. Maka tingkat ketasawufan akan dicapai. [5]














BAB III
PENUTUP
1.   Kesimpulan
Dari uraian yang dipaparkan di atas dapat penulis simpulkan bahwa tasawuf adalah suatu disiplin ilmu yang mempunyai  tujuan mendekatkan diri atau bertaqarrub kepada Allah. Sedangkan karakteristik tasawuf ada dua yaitu tasawuf religius dan tasawuf filosofis yang menganut doktrin-doktrin Yunanai.
Secara umum tasawuf terbagi menjadi tiga yaitu
a.       Tasawuf yang bertujuan untuk pembinaan aspek moral.
b.      Tasawuf yang bertujuan untuk ma’rifatullah.
c.       Tasawuf yang bertujuan membahas bagaimana system pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah.
Tasawuf menurut sarjana atau tokoh-tokoh barat dapat diketahui menurut pemikiran William James, R. M Bucke, dan Bettrad Russel . Semua kararistik tersebut di lakukan para sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan tanpa dibarengi dengan unsur ingin dipuji manusia atau sejenisnya.
Tokoh-tokoh yang melakukan penelitian terhadap tasawuf sangatlah banyak diantara Prof. Dr. Harun Nasution, Kautsar Azari Noor, dan Ahmad Amir Maksum, yang merupakan alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan masih banyak lagi.

2.   Saran
Setelah mempelajari pengertian tasawuf dan karakteristiknya diharapakan kita mampu untuk memahami dan mengerti makna tasawuf serta mengaplikasikanya didalam kehidupan sehari-hari, walaupun masih kurang maksimal karena kita hanya makhluk ciptaan Allah SWT. Namun itu merupakan suatu bentuk usaha untuk bertaqarrub atau  mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh pengabdian dan keikhlasan kepada-NYA.
Kita harus dapat memilih dan memilah bila ada suatu pemahaman tasawuf yang melenceng dari ajaran aqidah islam. kita harus memahami aqidah yang murni yang belum tercampur oleh sufi, karena belom tentu semua sufi mempunyai pandangan yang sesuai dengan aqidah islam.





















DAFTAR PUSTAKA
Bagir, Haidar. 2005. Buku Saku Tasawuf.  Bandung: Mizan
Shaifulah. 2013. Pengantar Tasawuf. Pasuruan: Yudharta Press
Abdul Mujieb,M. 2009. Ensiklopedia Tasawuf Imam Ghozali.Jakarta Selatan:Hikmah
Al- Ghozali. 2008.Mutiara Ihya ‘Ulumudin: yang di Tulis Sendiri Oleh Sang Hujatul Islam. Bandung:Mizan
https://id.wikipedia.org/wiki/Sufisme
Nata,abuddin.1998.metodelogi studi islam. Jakarta:Rajawali press 
Simuh, ahlak tasawuf,1998.jakarta:pt.raja grafindo persada
MGMP. 2014. HIKMAH: Akidah Akhlak kelas 11Madrasah Aliyah.Yogyakarta: Akik Pustaka         
http://kumpulanmakalah123.blogspot.co.id/2014/03/makalah-model-penelitian-tasawuf.html
Amir Maksum, Ahmad. 2010.Pemikiran Prof. Dr. Simuh Tentang Tasawuf dalam Buku Islam Dan Pergumulan Budaya Jawa, Yogyakarta:UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
http://alfynlm.blogspot.co.id/2015/03/resensi-buku-kunci-memahami-ilmu.html

                                                                                                                






[1]  Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf, Mizan, Bandung, 2005, hlm. 91.
[2] Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf, Mizan, Bandung, 2005, hlm. 91.
[3] http://alfynlm.blogspot.co.id/2015/03/resensi-buku-kunci-memahami-ilmu.html
[4] http://alfynlm.blogspot.co.id/2015/03/resensi-buku-kunci-memahami-ilmu.html
[5] Ahmad Amir Maksum, Pemikiran Prof. Dr. Simuh Tentang Tasawuf dalam Buku Islam Dan Pergumulan Budaya Jawa, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 201. Hlm. 33

0 komentar:

Posting Komentar