f 05/03/16 ~ Urwatun Wursqa
  • Pondok Pesantren Mafaza Yogyakarta

    Sebuah Pondok pesantren yang ada di Yogyakarta, tempatku membangun karakter dan mental dengan ilmu agama yang diajarkan...

  • Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sebuah kampus yang akan membangun kader pemimpin bangsa dan penegak hukum yang amanah dan dapat dipercaya http://uin-suka.ac.id/...

  • Kampus MAN Lab. UIN Yogyakarta

    Lembaga setingkat SMA, yang dalam lembaga itu aku memulai belajar berorganisasi, belajar bertanggung jawab, serta belajar menjadi pemimpin...

  • Kementrian Agama Republik Indonesia

    Salah satu kementrian yang ada dalam susunan penerintahan, yang suatu saat nanti aku akan menjadi pemimpin di Kementrian Agama Tersebut...

Selasa, 03 Mei 2016

THAHARAH: ISTINJA (CEBOK)

Hasil gambar untuk istinja
Istinja’ dalam bahasa Arab artinya mencari keselamatan dan dalam ilmu fiqih ialah menghilangkan najis yang keluar dari kedua aurat depan dan belakang dengan memakai air atau batu dan hukumnya wajib.
Beristinja’ ada tiga cara
1. Cara pertama dengan mengunakan air dan batu, ini merupakan cara yang paling sempurna dan disunahkan karena bisa menghilangkan bekas najis secara keseluruhan.
2. Cara kedua dengan menggunakan air saja, ini merupakan cara yang cukup. Cara ini pernah dilakukan oleh Nabi saw.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :  كَانَ رَسُولُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ  يَأْتِي الْخَلاَءَ، فَأَتْبَعَهُ أَنَا وَغُلاَمٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِإِدَاوَةٍ مِنْ مَاءٍ فَيَسْتَنْجِي بِهَا (رواه الشيخان)
Sesuai dengan Hadits dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Bahwa Rasulullah saw. pernah memasuki kebun, diikuti olehku dan seorang anak muda yang membawa kendi berisi air, maka beliau beristinja dengan air. (HR Bukhari Muslim)
3. cara ketiga dengan menggunakan batu saja ini merupakan cara yang paling ringan atau sedikitnya.
عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ مِثْلُ الْوَالِدِ ، فَإِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ فَلا يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ ، وَلا يَسْتَدْبِرْهَا لِغَائِطٍ وَلا بَوْلٍ ، وَلْيَسْتَنْجِ بِثَلاثَةِ أَحْجَارٍ (الشافعي وأبو داود والنسائي وابن ماجه)
Rasulallah saw bersabda: “Sesungguhnya aku bagi kamu seperti bapak maka apabila engkau ke WC, janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika kencing atau buang air besar dan bersucilah (ceboklah) dengan tiga batu” (HR asy-Syafie, Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah).
Dalam hal ini Rasulallah saw melarang cebok dengan menggunakan tahi binatang yang kering atau tulang dan melarang beristinja’ (cebok) dengan tangan kanan.
Syarat Beristinja’ Dengan Batu
1. Beristinja’ sebelum najisnya kering
2. Beristinja’ di tempat keluarnya najis
3. Tidak tersentuh oleh sesuatu
4. Tidak pindah najisnya dari kedua aurat (lubang tempat keluar najis)
5. Beristinja paling sedikit dengan tiga batu.
عَنْ سَلْمَان الفَارِسِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنْ لاَ يَجْتَزِئَ بأقلِّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ (رواه مسلم)
Sesuai dengan hadits dari Salman al-Farisi ra, ia berkata: “Rasulallah saw memerintahkan kami untuk tidak beristinja’ (cebok) kurang dari tiga batu” (HR Muslim)
Adab Masuk Kamar Mandi (WC)
1. Tidak membawa sesuatu dari dzikir Allah dan Rasul-Nya,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاءَ ، وَضَعَ خَاتَمَهُ (حسن صحيح غريب الترمذي)
Dari Anas bin Malik ra, telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi saw jika memasuki WC beliau melepaskan cincinya (HR at-Tirmidzi). Cincin beliau tertulis ”Mumammad Rasulallah”
2. Membaca do’a sewaktu masuk
بسم الله اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki- laki dan syetan perempuan
عَنْ عَلِيِّ ابن أَبِي طَالِبٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سِتْرُ ما بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إذَا دَخَلَ الكَنِيفَ أنْ يَقُولَ باسْمِ اللَّهِ (الترمذي و إسناده ليس بالقوة)
Dari Ali bin Abi Thalib ra, bahwa Rasulallah saw bersabda: penutup (dinding) antara Jin dan aurat manusia jika memasuki WC ia berkata: “bismillah” (HR at-Tirmidzi).
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النَبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الخَلاَءَ قَالَ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ (رواه الشيخان)
Hadits lainnya dari Anas bin Malik ra sesungguhnya Rasulallah saw jika memasuki WC beliau berkata ”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki- laki dan syetan perempuan” (HR Bukhari Muslim)
3. Membaca do’a sewaktu keluar
غُفْرَانَكَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنّيِ الأذَى و عَافَانيِ
Artinya: PengampunanMu ya Allah, segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan kotoran dariku dan memberikan kepadaku kesehatan.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا قَالَتْ : مَا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْغَائِطِ إِلا قَالَ : غُفْرَانَكَ ” (أبو داود وابن ماجه والترمذي)
Sesuai dengan hadits dari Aisyah ra, ia berkata: Rasulallah saw tidak keluar dari WC kecuali beliau berkata ”pengampunan-Mu ya Allah” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi).
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنْ الْخَلَاءِ قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الْأَذَى وَعَافَانِي (ابن ماجه ضعيف يعمل به في الفضائل)
Hadits lainnya dari Abu Dzarr ra sesungguhnya Rasulallah saw jika keluar dari WC beliau berkata: ”Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan kotoran dariku dan memberikan kepadaku kesehatan ” (HR Ibnu Majah, dhaif untuk pelengkap ibadah)
4. Mendahulukan kaki kiri sewaktu masuk dan kaki kanan sewaktu keluar. Karena kiri untuk keburukan dan kanan untuk kebaikan.
5. Membaca do’a dalam hati sewaktu beristinja’ (cebok)
اللَّهُمَّ حَصِّنْ فَرْجِي مِنْ الْفَوَاحِشِ وَ طَهِّرْ قَلْبِي مِنْ النِّفَاقِ
Artinya: Ya Allah jagalah kemaluanku dari perbuatan keji dan bersihkanlah hatikau dari nifak
Adab Buang Air di Tempat Terbuka
1. Bersembunyi atau berjauhan dari pandangan manusia agar tidak terdengar suara atau terhendus bau dari yang keluar.
عَنْ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ ، أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَهَبَ إِلَى الْغَائِطِ أَبْعَدَ (صحيح أحمد والترمذي وغيرهما)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw jika hendak buang air besar maka beliau pergi jauh. (HR Ahmad, At-Tirmidzi dll).
عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ :  مَنْ أَتَى الغَائِطَ فَلْيَسْتَتِرْ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ إلاَّ أَنْ يَجْمَعَ كَثِيباً مِنْ رَمْلٍ فَلْيَسْتَتِرْ بِهِ (أحمد و أبو داود بأسانيد حسنة)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda “Barangsiapa yang hendak buang hajat maka hendaklah bertabir. Kalau dia tidak mendapatkan tabir (tutup) hendaklah dengan cara mengumpulkan pasir (untuk dijadikan tabir), maka lakukanlah" (HR Ahmad, Abu Daud dengan sanad baik)
2. Jangan buang air di air tenang/tergenang.
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ نَهَى أنْ يُبَالَ في المَاءِ الرَّاكِدِ (رواه مسلم)
Dari Jabir ra, bahwa Rasulallah saw telah melarang seseorang itu kencing di air yang tenang. (HR Muslim)
3. Jangan buang air di lubang karena kemungkinan ada jin dan binatang.
عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَرْجِسَ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْبَوْلِ في الْجُحْرِ (صحيح أحمد وأبو داود والنسائي والحاكم والبيهقي)
 Dari Qatadah ra, dari Abdullah bin Sarjis ra, sesungguhnya Rasulullah saw telah melarang seseorang kencing di suatu lubang" (Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'I, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)
4. Jangan buang air di jalanan orang dan di tempat orang berteduh.
عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : اِتَّقُوا اللعَّانَينْ . قَالُوْا: وَمَا اللَعَّانَانِ يَا رَسُوْلَ الله؟ قَالَ: ” الَّذِي يَتَخلَّى في طَرِيْقِِ النَّاسِ أََوْ فِي ظِلِّهِمْ ” (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda “Jauhilah dua (perbuatan) yang menyebabkan laknat, yaitu buang hajat (besar/kecil) di jalan umum atau diperteduhan mereka" (HR Muslim)
5. Jangan buang air di bawah pohon ridang atau berbuah dan di tempat yang ada angin kencang
6. Jangan berbicara disaat buang air.
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يَخْرُجْ الرَّجُلَانِ يَضْرِبَانِ الْغَائِطَ كَاشِفَيْنِ عَنْ عَوْرَتِهِمَا يَتَحَدَّثَانِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَمْقُتُ عَلَى ذَلِكَ (رواه أحمد و أبو داود)
Dari abu Said ra, ia mendengar Rasulallah saw bersabda ” Tidaklah dua orang laki-laki keluar bersama untuk buang hajat lalu mereka membuka aurat mereka dan bercakap-cakap, maka sungguh Allah murka atas hal itu" (HR Ahmad,Abu Dawud)
7. Jangan menghadap ke kiblat atau membelakanginya disaat buang air kalau bukan di WC.
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ،  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمُ الى الْغَائِطَ فَلاَ يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَلاَ يَسْتَدْبِرْهَا لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ  (صحيح الشافعي)
Rasulallah saw bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian pergi untuk buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang air besar dan kecil" (HR shahih Syafie)
8. Harus meniriskan kecing hingga bersih dengan mengurut auratnya bagi laki- laki dan berdehem bagi perempuan.

https://hasansaggaf.wordpress.com/2011/12/08/istinja-cebok/

THAHARAH: TAYAMMUM

Hasil gambar untuk TAYAMMUM
Tayyammum dalam bahasa Arab artinya menuju dan dalam ilmu fiqih ialah menghapus muka dan kedua tangan dengan tanah yang suci sebagai pengganti wudhu dan mandi besar. Jadi, sekiranya kita tidak dapat berwudhu atau mandi junub dengan air karena sakit atau karena tidak ada air, maka wajib bertayammum. Tayyammum adalah salah satu rukshah (keringanan) dari Allah diberikan kepada umat Islam yang memiliki udzur atau halangan seperti sakit dan ketiadaan air.
Allah berfirman:
وَإِنْ كُنْتُمْ مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّن الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُواْ مَآءً فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ – النساء ﴿٤٣﴾
Artinya: “Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu”. (Qs An-Nisa’ ayat: 43)
Adapun hadist tentang tayyammum yaitu:
عَنْ عَمَّارٍ بْن يَاسِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَجْنَبْتُ فَتَمَعَّكْتُ فِي التُّرَابِ فَأَخْبَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ بِذَلِكَ فَقَالَ : إنَّمَا يَكْفِيكَ هَكَذَا ، وَضَرَبَ يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضَ وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ (رواه الشيخان)
Dari Ammar bin Yasir ra, ia  berkata, “Aku berjunub, lalu aku berguling-guling di atas debu, lalu aku ceritakan hal itu kepada Nabi saw, kemudian ia bersabda, ”Sesungguhnya cukup bagimu hanya berbuat begini”, yaitu Nabi saw menepuk kedua telapak tangannya ke tanah, kemudian mengusapkan kedua tangannya itu pada mukanya dan telapak tangannya”. (HR Bukhari dan Muslim)
Bila Dibolehkan Tayammum?
1. Sewaktu tidak ada air
Firman Allah:
فَلَمْ تَجِدُواْ مَآءً فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً – النساء ﴿٤٣﴾
Artinya: “kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)” (Qs An-Nisa’ ayat:43)
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الصَّعِيدُ الطَّيِّبُ وَضُوءُ الْمُسْلِمِ مَا لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ (حسن صحيح أبو داود و الترمذي)
Telah diriwayatkan bahwa Rasulallah saw bersabda: “Tanah yang baik (suci) wudhunya seorang muslim jika tidak ada air” (HR Abu Daud, at-Tirmidzi)
2. Sewaktu berbahaya memakai air (karena sakit).
Firman Allah:
وَإِنْ كُنْتُمْ مَّرْضَى – النساء ﴿٤٣﴾
Artinya: “Dan jika kamu sakit” (Qs an-Nisa’ ayat: 43)
3. Sewaktu perlu air untuk keselamatan jiwa (manusia atau hewan)
4. Sewaktu udara sangat dingin dan tidak ada api atau pemanas untuk memanaskan air.
عَنْ عَمْرٍو ابْنِ العَاص رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنْ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي الصُّبْحَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنِي مِنْ الاغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ اللَّهَ يَقُولُ ” وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا “ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا (صحيح على شرط الشيخين وأبو داود والبيهقي و الحاكم)
Dari Amru bin al-Ash, ia berkata: ”Ketika kami dalam peperangan Zatu al-Salasil (8H), aku telah mimpi (berjunub) sedangkan ketika itu udara sangat dingin. Aku kuatir jika aku mandi akan binasa (sakit), lalu aku bertayammum dan mengimamkan sholat subuh bersama-sama kawan-kawanku. Ketika kami sampai di sisi Rasulullah saw, kawan-kawanku mengadu hal tersebut kepada beliau. Lalu Rasulullah saw bersabda: “Wahai Amru! Kamu sholat dengan kawan-kawanmu, sedangkan engkau berjunub?” Maka aku beritahukan sebab tidak bisa mandi janabah,  aku berkata: “aku teringat firman Allah: (Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu). Lalu akupun bertayammum dan sholat”. Rasulullah saw tertawa dan tidak berkata apa-apa” (HR Bukhari Muslim, Abu Daud, al-Baihaqi, al-Hakim)
Syarat Tayammum
1. Harus dengan tanah suci yang berdebu diiringi dengan tujuan ingin bertayammum.
Allah berfirman
فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً – النساء ﴿٤٣﴾
Artinya: ” maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)” (Qs An-nisa’ ayat:43)
عَنْ حُدَيْفَةَ بِنْ اليَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فُضِّلْنَا عَلَى النَّاسِ بِثَلاثٍ : وَجُعِلَتْ لَنَا الأَرْضُ مَسْجِدًا وَجُعِلَ تُرَابُهَا لَنَا طَهُورًا جُعِلَتْ صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلائِكَةِ (رواه مسلم)
Dari Hudzaifah bin al-Yaman ra Rasulallah saw bersabda, “Kita dilebihkan dari manusia (umat) yang lain dengan tiga perkara yaitu dijadikan bumi seluruhnya sebagai masjid (tempat shalat), dijadikan tanah/debunya bagi kita sebagai sarana bersuci (apabila kita tidak mendapatkan air), dan shaf-shaf kita seperti shaf-shaf malaikat.” (HR Muslim)
2. Harus dengan dua penghapusan, menghapus muka dan tangan sampai ke siku hanya satu kali penghapusan. Tayammum adalah pengganti wudhu. Maka pengganti harus sama dengan yang diganti. Jadi penghapusan tangan sampai ke siku dalam tayammum sama dengan perintah Allah untuk membasuh tangan sampai ke siku disaat wudhu..  .
Firman Allah:
فَلَمْ تَجِدُواْ مَآءً فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ – النساء ﴿٤٣﴾
Artinya: “kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu”. (Qs An-Nisa’ ayat: 43)
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : التَّيَمُّمُ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ ، وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ (حديث جيد رواه البيهقي)
Dari Jabir ra, Rasulallah saw bersabda, “Tayyammum itu satu tepukan untuk wajah dan satu tepukan lagi untuk kedua tangan sampai siku” (HR al-Baihaqi, hadits baik)
عَنْ ابْنِ جُهَيْمٍ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَحْوِ بِئْرِ جَمَلٍ فَلَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى الْجِدَارِ فَمَسَحَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَام (رواه البيهقي)
Dari Abul Juhaim Al-Anshari ra, ia berkata: Rasulullah saw. pernah datang dari sumur Jamal dan bertemu dengan seorang lelaki yang mengucapkan salam kepada beliau. Namun beliau tidak menjawabnya. Ketika beliau tiba di suatu dinding, beliau mengusap wajah dan kedua tangan beliau, kemudian menjawab salam. (HR al-Baihaqi)
3. Boleh bertayammum hanya setelah masuk waktu shalat, karena tayyammum adalah pengganti air dan tidak dilakukan kecuali setelah masuk waktu yaitu setelah diyakini betul betul ketiadannya.
4. Harus bertayammum setiap shalat fardhu.
Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُواْ مَآءً فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِّنْهُ – المائدة ﴿٦﴾
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” (Qs Al-Maidah ayat:6)
Tidak sah shalat kecuali dengan wudhu, dan satu wudhu bisa digunakan untuk beberapa shalat fardhu. Berlainan dengan tayyammum dilakukan sebagai pengganti wudhu dan hanya bisa digunakan untuk setiap shalat fardhu.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ يَتَيَمَّمُ لِكُلِّ صَلَاةٍ وَإِنْ لَمْ يُحْدِثْ (رواه البيهقي بإسناد صحيح)
Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya Rasulallah saw bertayyammum setiap shalat walaupun tidak berhadats (batal) ” (HR al-Baihaqi dengan isnad shahih)
Wajib Tayammum
1. Memindahkan tanah yang berdebu ke muka dan tangan.
Firman Allah:  “maka bertayamumlah kamu” an-Nisa’, 43
2. Niat (aku niat bertayammum untuk melakukan shalat) disertai tepukan tangan ke tanah dan menyapunya.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّما الأَعْمَالُ بالنِّيَّاتِ” (الحديث المسبق)
Rasulallah saw bersabda  “Sesungguhnya setiap amal  perbuatan tergantung pada niatnya”  (HR Bukhari Muslim)
3. Menghapus muka satu kali
4. Menghapus kedua tangan sampai ke siku satu kali
5. Tertib antara kedua penghapusan, yaitu menghapus muka dahulu baru setelah itu tangan.
Allah berfirman ” sapulah mukamu dan tanganmu“. an-Nisa’ 43
Dalam ilmu fiqh tayammum diartikan dengan menyampaikan tanah ke muka dan dua tangan sebagai ganti daripada wudhu dan mandi jika tidak ada air atau sakit (berhalangan) menggunakan air. Kemudian jika waktu sholat datang sedangkan air dan tanah suci tidak ada maka shalat wajib didirikan tanpa wudhu.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا أَنَّهَا اسْتَعَارَتْ مِنْ أَسْمَاءَ قِلادَةً فَهَلَكَتْ فأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِهِ فيِ طَلَبِهَا فَأَدْرَكَتْهُمْ الصَّلاةُ فَصَلَّوْا بِغَيْرِ وٌضُوْءٍ فَلَمَّا أَتَوْا النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَشَكَوْا ذَلِكَ إِلَيه فََنَـزَلَ اللَّهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ (رواه الشيخان)
Sesuai dengan hadits Rasulallah saw dari Aisyah bahawasanya ia meminjam kalung dari Asma’, lalu kalung itu hilang. Kemudian Rasulullah saw mengutus seseorang (untuk mencarinya), akhirnya kalung tadi dapat ditemukan. Lalu waktu sholat tiba dan tidak ada air di sana. Mereka sholat (tanpa wudu’) dan memberitahukan kepada Rasulullah saw. Maka Allah menurunkan ayat-ayat tayammum” (HR Bukhari Muslim).
Perbuatan shahabat ini tidak dibantah oleh Rasulallah saw dan tidak dikatakan bahwa shalat dalam keadaan seperti ini tidak wajib, akan tetapi wajib baginya untuk mengulangi shalatnya, karena Rasulallah saw bersabda:
لِمَا صَحَّ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لا يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُوْرٍ (رواه مسلم)
“Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci” (HR Muslim)

Sunah Tayammum
  • Membaca bismillah
  • Mendahulukan yang kanan dari yang kiri
  • Menghapus muka dari atas ke bawah seperti membasuh muka dalam berwudhu
  • Mengurangi debu tanah
  • Berturut-turut yaitu tidak ada jarak waktu antara menghapus muka dan tangan
  • Membuka jari jari tangan sewaktu meletakannya di tanah
  • Membuka cincin
  • Melewatkan tangan yang berdebu ke angota tayammum
  • Menghapus muka dan tangan satu kali-satu kali
  • Menghadap kiblat
  • Berdo’a setelah selesai (sama seperti do’a setelah wudhu)
Yang Membatalkan Tayammum
  • Semua yang membatalkan wudhu membatalkan tayammum
  • Melihat air sebelum shalat (bagi yang bertayammum karena tidak ada air). Fungsi tayyammum sebagai penganti air, dan air merupakan alat utama untuk bersuci. Maka jika ada air tayyammumnya tidak berfungsi.
  • Murtad (keluar dari agama Islam)
Luka (Jarih)
Walaupun dalam keadaan luka shalat wajib dilakukan. Dan sebelum shalat harus melakukan kewajiban bersuci dari hadats kecil atau hadats besar. Sekarang jika anggota tubuh kita terkena luka (jarih), kita diwajibkan bersuci seperti biasa (wudhu atau mandi junub). Dalam hal ini hukumnya terbagi atas dua bagian:
I- Luka tidak dibalut perban
jika luka berada di anggota tayammum (anggota tayammum adalah wajah dan kedua tangan) dan tidak dibalut. Dalam hal ini jika luka masih bisa dibasuh oleh air, maka kita wajib membasuhnya seperti tidak ada luka baik wudhu atau mandi besar.
Jika luka tidak bisa dibasuh air (menurut anjuran dokter) sedang lukanya berada dianggota tayammum (wajah dan tangan), maka wajib membasuh semua anggota yang sehat dengan air lalu bertayammum pada anggota yang terkena luka. Dan hal ini dilakukan dengan tertib. Misalnya, luka terdapat pada wajah, berarti tayammum dilaksanakan sebelum membasuh tangan. Atau luka terdapat pada tangan, maka tayammum dilakukan setelah membasuh wajah. Setelah sembuh lukanya tidak wajib mengulangi shalatnya.
Berlainan jika luka yang berada di anggota tayammum itu tidak bisa ditayammumkan. Artinya luka trb tidak bisa diusap dengan debu atau tidak bisa terkena debu. Maka hal yang seperti ini jika lukanya telah sembuh, ia wajib mengulangi (qadha) shalat selama ia tidak bertayammum.
Sekarang jika luka tidak berada di anggota tayammum (wajah dan tangan), maka cara semacam ini dianggap cukup dan tidak ada kewajiban mengulangi shalat setelah sembuh dari luka meskipun lukanya tidak ditayamumkan atau tidak bisa dikenai debu.
II- Luka dibalut perban
Jika luka dibalut dengan perban dan berada pada anggota tayammum (wajah dan tangan). Maka sebaiknya saat bersuci membuka perban, kemungkinan luka masih bisa dibasuh air atau diusap debu (bertayammum). Jika perban tidak mungkin dibuka, maka hukumnya membasuh anggota yang sehat dengan air lalu mengusap pembalut dengan kelima jari tanganya setelah dicelup dengan air (dengan tangan yang basah), setelah itu sebagai pengganti bagian tubuh yang tertutup pembalut  hendaklah ia bertayammum. Adapun bersuci seperti model ini shalanya wajib diulang setelah sembuh.
Kesimpulannya:
  • Jika pembalut terletak bukan di anggota tayyammum (wajah dan tangan) maka tidak wajib mengulangi (mengqadha) shalatnya
  • Jika pembalut terletak di anggota tayyammum (wajah dan tangan) maka wajib mengulangi shalatnya
  • Jika pembalut diletakan dalam keadaan tidak berwudhu maka wajib mengulangi shalatnya
  • Jika pembalut terbuat dari bahan yang najis atau terkena najis (selain darah dari lukanya) maka wajib mengulangi shalatnya
Mengulangi (Qadha) Shalat Karena Tayammum
Ada 4 hal bagi yang bertayammum wajib mengulangi (menqadha) shalatnya:
  1. Orang yang bertayammum di daerah dingin dan susah mendapatkan api yang bisa digunakan sebagai penghangat air
  2. Orang yang bertayammum karena tidak ada air di daerah yang biasanya ada air
  3. Orang yang bertayammum dalam perjalanan maksiat
  4. Orang yang bertayammum karena ada pembalut di anggotanya dan sewaktu dibalut ia tidak berwudhu.

THAHARAH: MANDI JUNUB (AL-GHASLU)

Hasil gambar untuk mandi junub
Mandi wajib atau mandi junub dalam bahasa Arab disebut al-ghuslu dan dalam ilmu fiqih ialah membasuh seluruh anggota tubuh dengan air disertai niat. Mandi Wajib dalam istilah lain disebut Mandi Junub biasanya ini dilakukan setelah berhubungan intim dengan pasangan hidup kita (suami istri), selain itu adapula saat setelah haid dan nifas bagi wanita, maka baginya wajib mandi
Yang Mewajibkan Mandi Junub
1; Bersetubuh
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا اِلْتَقَى الخِتَانَانِ وَجَبَ اْلغُسْلُ (رواه مسلم )
Dari Aisyah ra, bahwa Rasulallah saw bersabda, “Jika dua alat kelamin telah bertemu, maka wajib mandi.” (HR Muslim).
2- Keluar mani dengan bersetubuh, bermimpi atau onani
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا اْلمَاءُ مِنَ اْلمَاءِ (رواه الشيخان)
Rasulallah saw bersabda, “Sesungguhnya air dari air” (HR Bukhari Muslim).
Maksud dari hadits trb ialah tidak wajib seseorang menggunakan air untuk mandi kecuali jika keluar air mani
3. Haid
Allah berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَآءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ – البقرة ﴿٢٢٢﴾

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Qs al-Baqarah ayat: 222)
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِي حُبَيْش : إِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي (رواه الشيخان)
Rasulallah saw berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisy “Jika datang haid maka tinggalkanlah shalat dan jika telah pergi maka mandilah dan shalatlah” (HR Bukhari Muslim)
4. Melahirkan (walaupun tidak keluar darah)
5. Nifas (darah setelah melahirkan)
Wajib Mandi Junub
1. Niat
لِمَا صَحَّ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (رواه الشيخان)
Sesuai dengan hadits sebelumnya, Rasulallah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap amal  perbuatan tergantung pada niatnya” (HR Bukhari Muslim)
2. Membasuh seluruh anggota tubuh dengan air
عَنْ جُبَيْر بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : تَذَاكَرْنَا الْغُسْلَ مِنْ الْجَنَابَةِ عِنْد رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ واله وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَمَّا أَنَا فَيَكْفِينِي أَنْ أَصُبَّ عَلَى رَأْسِي ثَلَاثًا ثُمَّ أُفِيضُ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِي  (رواه الشيخان)
Dari Jubair bin Muth’im ra, ia berkata: kami menyebutkan mandi janabah di sisi Rasulallah saw, maka beliau bersabda: Adapun aku maka cukup bagiku menyiram di atas kepalaku tiga kali, kemudian menyiram ke seluruh tubuhku. (HR Bukhari Muslim).
Sunah Mandi Junub
  • Membaca bismillah (bukan bermaksud membaca al-Qur’an) disertai dengan niat
  • Mencuci kedua telapak tangan
  • Menghilangkan najis (cebok)
  • Berwudhu dengan sempurna
  • Membasahi sendi sendi
  • Menyiram kepala lebih dahulu
  • Menyiram seluruh tubuh dengan mendahulukan bagian anggota yang kanan kemudian yang kiri
  • Melakukannya tiga kali-tiga kali
  • Menggosok tubuh
  • Kadar air yang digunakan untuk mandi tidak boleh kurang dari satu sha’.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلاةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنَّهُ قَدِ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاثَ حَفَنَاتٍ ، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ (رواه الشيخان)
Dari Aisyah ra, ia berkata: Rasulullah saw jika mandi junub, beliau memulai dengan membasuh kedua tangan, lalu menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan. Setelah itu berwudu seperti wudhu untuk shalat lalu mengguyurkan air dan dengan jari-jari beliau memasukan air ke selah-selah rambut sampai nampak merata ke seluruh tubuh. Kemudian beliau menciduk dengan kedua tangan dan dibasuhkan ke kepala tiga cidukan, kemudian mengguyur seluruh tubuh dan (terakhir) membasuh kedua kaki beliau. (HR Bukhari Muslim).
عَنْ سَفِيْنَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وآله  وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ (رواه مسلم)
Begitu pula hadits dari Safinah ra sesungguhnya Nabi saw mandi junub dengan wadah ukuran satu sha’ dan berwudhu dengan wadah ukuran satu mud (HR Muslim)
Keterangan (Ta’liq):
–          Mud yaitu takaran sepenuh dua telapak tangan orang laki-laki sedang, kurang lebih 0.6875 kg air = 0.6875 liter air.
–          Sha’ yaitu takaran 4 Mud, kurang lebih 2.75 kg air = 2.75 liter air, berlainan dengan 1 sha’ beras = 2.75 kg = kurang lebih 3.50 liter beras.
Jadi kalau Rasulullah saw mandi junub dengan menggunakan ukuran 1 Sha’ air dan berwudhu dengan ukuran 1 Mud air berdasarkan hadits Safinah ra di atas, maka dapat dibayangkan betapa hematnya beliau menggunakan air untuk mandi dan berwudhu.
Larangan Bagi Orang Junub
1. Shalat
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طهُوْرٍ (رواه مسلم)
Sesuai dengan sabda Rasulallah saw “Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci” (HR Muslim)
2. Thawaf
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ إلَّا أَنَّ اللَّهَ أَبَاحَ فِيهِ الْكَلَامَ (رواه الترمذي و الحاكم الدارقطني)
Sesuai dengan sabda Rasulallah saw dari Ibnu Abbas ra: “Thawaf di Baitullah itu sama dengan shalat hanya saja Allah membolehkan dalam thawaf berbicara” (HR Tirmidzi, Hakim, Darquthni)
3. Menyentuh Al-Qur’an, karena ia adalah kitab suci, maka tidak boleh disentuh atau dibawa kecuali dalam keadaan suci.
Allah berfirman:
لاَّ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ – الواقعة ﴿٧٩﴾
 Artinya: “tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” (Qs Al-Waqi’ah ayat:79) 
4. Membawa Al-Qur’an. Hal ini dikiyaskan dari menyentuh al-Qur’an
5. Membaca Al-Qur’an
عَنْ ابْنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ، وَلاَ الْحَائِضُ، شَيْئاً مِنَ الْقُرْآنِ (الترمذي و ابن ماجه و البهيقي و غيرهم وهو ضعيف)
Sesuai dengan hadits dari Ibnu Umar, Rasulallah saw bersabda “Janganlah orang junub dan wanita haid membaca sesuatu pun dari Al Qur’an (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Baihaqi dll, dhaif tapi bisa digunakan untuk pelengkap ibadah).
عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَلَمْ يَكُنْ يَحْجُبُهُ وَرُبَّمَا قَالَ : يَحْجُزُهُ عَنِ القُرْآنِ شَيْئٌ لَيْسَ الجَنَابةِ (حسن صحيح ابو داود و الترمذي والنسائي)
Hadits lainya dari Ali bin Abi Thalib ra sesungguhnya Rasulallah saw membuang hajatnya kemudian membaca al-Qur’an dan tidak menghalanginya dari pembacaan al-Quran, kemungkinan ia berkata: Bahwasanya menghalangi suatu dari membaca al-Qur’an selain junub (HR Abu Daud, Tirmizi, Nasai’, hadist hasan shahih)
6. Duduk di Masjid
Allah berfirfman
لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ – النساء ﴿٤٣﴾
 Artinya: “janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja” (Qs An-Nisa’ ayat:43)

https://hasansaggaf.wordpress.com/2011/12/07/mandi-junub-al-ghuslu-2/