f 10/29/16 ~ Urwatun Wursqa
  • Pondok Pesantren Mafaza Yogyakarta

    Sebuah Pondok pesantren yang ada di Yogyakarta, tempatku membangun karakter dan mental dengan ilmu agama yang diajarkan...

  • Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sebuah kampus yang akan membangun kader pemimpin bangsa dan penegak hukum yang amanah dan dapat dipercaya http://uin-suka.ac.id/...

  • Kampus MAN Lab. UIN Yogyakarta

    Lembaga setingkat SMA, yang dalam lembaga itu aku memulai belajar berorganisasi, belajar bertanggung jawab, serta belajar menjadi pemimpin...

  • Kementrian Agama Republik Indonesia

    Salah satu kementrian yang ada dalam susunan penerintahan, yang suatu saat nanti aku akan menjadi pemimpin di Kementrian Agama Tersebut...

Sabtu, 29 Oktober 2016

DESA TERCINTA



DESAKU TECINTA
(Desa Ngadiharjo, Borobudur, Magelang)
SMP Negeri 2 Borobudur, salah satu sekolah umum yang berada di desaku
Tidak terasa sudah empat tahun Aku meninggalkan sebuah desa yang begitu aku cintai. Selama empat tahun silam aku pergi merantau untuk melanjutkan pedidikanku di salah satu kota besar di Indonesia yang terkenal dengan Kota Pelajar, atau Kota Yogyakarta. Aku mulai merantau dengan belajar di sebuah sekolah yang berada di bawah Kementrian Agama , yaitu MAN Lab.UIN Yogyakarta, sekaligus menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Ishlah Yogyakarta. Setelah lulus dari MAN Lab. UIN Yogyakarta,aku mengabdikan diri di MA Mafaza Ketandan, Banguntapan, Bantul, sebagai pembina pramuka  sambil melanjutkan pendidikanku guna memperoleh ilmu hukum dan gelar Sarjana Hukum yang kelak bermanfaat untuk warga desaku dan umat, di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah atau hukum keluarga.
Selama empat tahun aku belajar di Kota Pelajar, aku hanya pulang beberapa kali, terhitung tiap tahun dua kali, yaitu saat libur semester ganjil dan saat Hari Raya Idul Fitri. Perasaan rindu akan desa dimana aku dilahirkan selalu jadi selimut dalam hidupku, terutama orang tua dan guru ngajiku. Selama empat tahun itu pula, aku selalu ingat akan kenangan indah di desa tercinta yang sampai sekarang masih membekas dalam memoriku, Desa Ngadiharjo namanya.
Desa Ngadiharjo adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Desaku termasuk desa yang luas secara geografis dibandingkan dengan desa lain di Kecamatan Borobudur. Jarak tempuh dari desaku ke Kecamatan Borobudur sekaligus ke Candi Borobudur 15 menit, dan jarak tempuh menuju Ibu Kota Kabupaten Magelang kurang lebih 30 menit menggunakan sepeda motor.
Kondisi desaku hingga kini masih indah bagaikan desa impian, udara masih sangat segar dan sejuk pada siang maupun sore hari. Hamparan sawah yang hijau masih menjadi pemandangan indah yang tak bisa Aku jumpai di tempatku merantau, Yogyakarta. Mayoritas penduduk desaku bekerja sebagai petani ataupun buruh tani seperti ayahku, yang pergi ke sawah mulai pagi hari dan pulang diwaktu dhuhur ataupun setelah asar. Dari segi sarana dan prasarana, desaku sudah boleh dikatakan sebagai desa yang berkecukupan, mulai dari sambungan listrik PLN, Posyandu, sekolah, tempat peribadahan (masjid), hingga jalan yang menghubungkan desaku dengan ibu kota kecamatan maupun kabupaten.
Warga desaku sangatlah ramah, saat bertemu mereka saling tegur sapa, saling mengenal, bahkan hampir satu desa mereka saling kenal. Berbeda dengan di kota, bila bertemu hanya kadang-kadang tegur sapa, dan yang paling memperihatinkan mereka tidak saling mengenal, walaupun hanyatetangga rumah.
Banyak sekali kenangan yang tertinggal di desa ini, mulai kenangan manis hingga kenangan pahit, apalagi kalau mengingat kembali cerita masa kecil dulu, mandi di kali, main layang-layang, main kelereng, dan masih banyak lagi. Namun yang paling aku suka dan aku rindukan adalah waktu setelah asar menjelang maghrib. Pada waktu tersebut banyak remaja dan orang tua yang bercanda di depan rumah, baik rumah sendiri maupun rumah tetangga, menunggu berkumandangnya adzan maghrib, dan saat adzan maghrib berkumandang mereka berbondong menuju masjid. Setelah maghrib terdapat pemandangan indah dimana anak-anak, remaja orang tua menyandang kitab suci Al-Qur’an.
Itulah sekelumit cerita tentang desaku yang sangat aku rindukan, di desa ini aku dilahirkan dan tempatku kembali dari perantauan. Aku minta do’a dari teman-teman semua, semoga suatu hari nanti aku bisa pulang dengan gelar Sarjana Hukum dan Hafidz, yang kelak bisa kuamalkan untuk masyarakat desaku dan negeri tercinta ini, INDONESIA. Tunggu kedatanganku Desaku, Indonesiaku.