f 05/04/16 ~ Urwatun Wursqa
  • Pondok Pesantren Mafaza Yogyakarta

    Sebuah Pondok pesantren yang ada di Yogyakarta, tempatku membangun karakter dan mental dengan ilmu agama yang diajarkan...

  • Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sebuah kampus yang akan membangun kader pemimpin bangsa dan penegak hukum yang amanah dan dapat dipercaya http://uin-suka.ac.id/...

  • Kampus MAN Lab. UIN Yogyakarta

    Lembaga setingkat SMA, yang dalam lembaga itu aku memulai belajar berorganisasi, belajar bertanggung jawab, serta belajar menjadi pemimpin...

  • Kementrian Agama Republik Indonesia

    Salah satu kementrian yang ada dalam susunan penerintahan, yang suatu saat nanti aku akan menjadi pemimpin di Kementrian Agama Tersebut...

Rabu, 04 Mei 2016

FIQIH: DARAH WANITA

Hasil gambar untuk BANGKAI SUCI
Darah yang keluar dari rahim wanita ada tiga jenis
  1. Darah haid
  2. Darah nifas
  3. Darah istihadhah
1. Darah Haid
Darah haid ialah darah sehat yang keluar dari rahim wanita.yang sedikitnya berusia 9 tahun. Darah ini keluar minimumnya selama sehari semalam (24 Jam), maksimumnya 15 hari dan normalnya 6 atau 7 hari. Jadi masa suci bagi wanita antara dua haid tidak boleh kurang dari 15 hari. Dalilnya adalah ketetapan yang telah ditetapkan oleh Imam Syafie.
2- Darah Nifas
Darah nifas ialah darah yang keluar dari rahim wanita yang melahirkan, minimumnya seketika, maksimumnya 60 hari dan normalnya 40 hari. Dalilnya adalah ketetapan yang telah ditetapkan oleh Imam Syafie.
3- Darah Istihadhah
Darah istihadhah ialah darah yang keluar dari rahim wanita, ia bukan darah haid atau darah nifas tapi darah penyakit. Hukumnya seperti hukum orang yang tidak bisa menahan kecing yang selamanya keluar.
Dan jenis darah istihadhah ada 5:
  1. Darah yang keluar dari rahim gadis yang belum berusia 9 tahun
  2. Darah yang keluar dari rahim wanita kurang dari sehari semalam (kurang dari 24 Jam)
  3. Darah yang keluar dari rahim wanita lebih dari 15 hari
  4. Darah yang keluar dari rahim wanita yang melahirkan lebih dari 60 hari
  5. Darah yang keluar dari rahim wanita sebelum habis masa suci 15 hari
Keterangan:
Bagi wanita yang mengeluarkan darah istihadhah (darah penyakit) yaitu bukan darah haid dan nifas wajib baginya melakukan shalat dan puasa.
Cara shalat bagi wanita istihadhah
1- Mencuci darah istihadhah dari kemaluannya sebersih-bersihnya dan menutup rapat kemaluan dengan kain (softek).
لِمَا رُوِىَ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِحَمْنَة بِنْتِ جَحْشٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا: أَنْعَتُ لَكِ الْكُرْسُفَ قَالَتْ إِنَّهُ  أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: فَتَلَجَّمِي (صحيح أبو داود والترمذي و غيرهما)
Sesuai dengan sabda Rasulallah saw kepada Hamnah binti Jahsy ra “Aku beritahukan kepadamu (agar menggunakan) kapas kerena kapas dapat menyerap darah” Hamnah berkata: “Darahnya lebih banyak daripada itu” Rasulallah saw bersabda lagi: “Maka pakailah penahan.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi, dll).
Jika masih tetap keluar setelah diberikan penahan maka darah yang keluar (rembas) tidak membatalkan wudhunnya dan shalatnya sah. Karena kesulitan baginya untuk mencegah darah yang keluar.
2- Wajib mengulangi mencuci darah dari kemaluannya dan menutup rapat kemaluan dengan kain (softek) setiap akan wudhu. Dan wajib wudhu setiap akan melakukan shalat
3- Tidak boleh berwudhu sebelum masuk waktu shalat
4- Satu wudhu hanya bisa berlaku untuk satu shalat fardhu saja atau tidak boleh lebih dari satu shalat fardhu kecuali shalat sunah boleh dilakukan sekehendaknya.
5- Harus segera melakukan shalat setelah berwudhu tidak boleh ditunda. Jika shalatnya ditunda setelah berwudhu, maka wudhunya wajib diulangi, karena dikuatirkan darah akan keluar lebih banyak lagi. Hal ini sama dengan orang yang tidak bisa menahan kencing karena penyakit, shalatnya harus disegerakan setelah berwudhu tidak boleh ditunda.
Hikmah Haid
  1. Tanda wanita sehat jika keluar haid
  2. Tanda sudah masuk baligh jika keluar haid
  3. Tanda tidak hamil jika keluar haid
  4. Tanda wanita masuk menopause (sudah baki) jika tidak keluar haid
Larangan Bagi Haid Dan Nifas
Diharamkan bagi wanita haid dan nifas melakukan:
1. Shalat.
لِمَا صَحَّ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِفَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِي حُبَيْش : فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي (رواه الشيخان)
Sesuai dengan sabda Rasulallah saw kepada Fatimah binti Abi Hubaisy: “Jika datang haid maka tinggalkanlah shalat, dan jika telah pergi maka mandilah dan lakukanlah shalat” (HR Bukhari Muslim).
2. Puasa.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ ؟ قَالَ : أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ ، وَتَمْكُثُ اللَّيَالِيَ مَا تُصَلِّي ، وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا نُقْصَانُ الدِّينِ (رواه الشيخان)
Dari Abdullah bin Umar ra, Rasulallah saw bersabda: ” Aku tidak melihat kurangnya akal dan agama yang lebih menguasai manusia dari kalian. Wanita itu bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kekurangan akal dan agama itu? Rasulullah saw menjawab: Yang dimaksud dengan kurang pada akal adalah karena saksi dua wanita sama dengan saksi seorang laki-laki, ini adalah kekurangan akal. Wanita bangun malam tanpa mengerjakan shalat dan tidak puasa di bulan Ramadan (karena haid), ini adalah kekurangan pada agama” (HR Bukhari Muslim).
3. Thawaf
لِمَا صَحَّ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا :ِ ِاصْنَعِي مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أََنْ لاَ تَطُوفِي (رواه الشيخان)
Sesuai dengan sabda Rasulallah saw kepada Aisyah ra (Ketika haji wada’ dan ia mendapatkan haid): “Lakukanlah semua amalan yang dilakukan oleh orang yang melaksanakan haji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah” (HR Bukhari Muslim).
4. Membaca Al-Quran, berkiyas kepada orang yang sedang junub diharamkan membaca al-Qur’an.
5. Menyentuh Al-Qur’an atau membawanya, karena ia adalah kitab suci, maka tidak boleh disentuh atau dibawa kecuali dalam keadaan suci, Allah berfirman:
لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ – الواقعة ﴿٧٧﴾
 Artinya: “tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” (Qs Al-Waqi’ah ayat: 77)
6. Berdiam (I’tikaf) di masjid.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : لا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلا جُنُبٍ (رواه أبو داود وابن ماجه والطبراني و صححه ابن خزيمة و حسنه ابن القطان)
Dari Aisyah ra, Rasulallah saw bersabda “Aku tidak halalkan masjid bagi wanita yang sedang haid dan bagi orang yang junub” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, At-Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu al-Qathan)
7. Bersetubuh
Allah berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ – البقرة ﴿٢٢٢﴾
 Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu” (Qs Al-Baqarah ayat: 222)
8. Menikmati dengan membuka antara lutut dan pusar (tanpa busana).
Sesuai dengan firman Allah tersebut diatas, dan hadist Rasulallah saw,
عَنْ عُمَرَ ابْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنْ امْرَأَةٍ وَهِيَ حَائِضٌ ؟ فَقَالَ : مَا فَوْقَ الإِزَارِ (رواه ابن ماجه والبيهقي)
Dari Umar bin Khattab ra, ia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi saw apa yang dihalalkan bagi laki-laki atas perempuan yang sedang haid”. Beliau bersabda: “menyentuh apa-apa yang diatas kain (di atas pusar)” (HR Ibnu Majah, al-Baihaqi)

https://hasansaggaf.wordpress.com/2012/02/26/darah-wanita/

BANGKAI YANG SUCI

Ada tiga jenis bangkai yang suci
1. Bangkai manusia baik bangkai itu seorang muslim atau kafir.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : لَا تُنَجِّسُوا مَوْتَاكُمْ ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ لا يَنْجَسُ حَيًّا وَلَا مَيِّتًا  (الحاكم والبيهقي على شرط الشيخين)
Dari Ibnu Abbas ra, Rasulallah saw bersabda: “janganlah kau menajiskan bangkai-bangkai kamu (bangkai manusia), sesungguhnya seorang mukmin itu tidak najis sewaktu hidupnya dan matinya” (HR Hakim, Baihaqi).
Dan Islam membolehkan memakan makanan ahli kitab. Adapun dalil yang menyatakan bahwa orang kafir itu tidak najis begitu pula bangkainya yaitu Hadits Nabi saw
عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال : بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْلاً قِبَلَ نَجْدٍ، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Nabi saw telah mengirim tentara ke arah Najed, kemudian mereka kembali dengan seorang tawanan (Kafir) dari bani Hanifah disebut Tsumamah bin Usal, lalu diikat di salah satu tiang di masjid (HR Bukhari)
2. Bangkai ikan laut dan sungai.
Allah berfirman: 
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعاً لَّكُمْ – المائدة ﴿٩٦﴾
 Artinya: “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu” (Qs Al-Maidah ayat: 96)
3. bangkai kelabang / belalang.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ مَعَهُ الْجَرَادَ (رواه الشيخان)
Sesuai dengan hadist dari Abdullah ibnu Abi Aufa, ia berkata: “Kami berperang bersama Rasulullah saw tujuh kali perang, kami memakan belalang” (HR Bukhari Muslim)
Keterangan (Ta’liq):
– Arak bisa menjadi suci jika berubah menjadi cuka dengan sendirinya tanpa dicampuri dengan zat lainnya yang bisa merobahnya menjadi cuka.
عَنْ عُمَرَ ابْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ خَطَبَ فَقَالَ : لاَ يَحِلُّ خَلٌّ مِنْ خَمْرٍ أُفْسِدَ حَتَّى يَبْدَأَُ اللهُ إِفْسَادَهَا فَعِنْدَ ذَلِكَ يَطِيْبُ الخلُّ (رواه البيهقي)
Dari Umar bin Khattab ra sesungguhnya ia berkhutbah dan berkata: “Arak tidak halal jika dirubah menjadi cuka, sehingga Allah mulai merubahnya. Maka pada saat itu cukanya halal” (HR Al-Baihaqi)
– Kulit bangkai hewan bisa mejadi suci jika disamak.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : إِذَا دُبِغَ الإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ (رواه مسلم)
Dari Ibnu Abbas ra, Rasulallah saw bersabda: “jika kulit bangkai telah disamak, maka dia telah suci” (HR Muslim). Yang dimaksudkan di sini adalah bangkai binatang yang boleh dimakan dagingnya, seperti kulit bangkai unta, kambing, sapi dll.

https://hasansaggaf.wordpress.com/2012/02/26/bangkai-yang-suci/

NAJASAH (NAJIS) DAN PEMBAGIANNYA

Najasah (Najis)
Najis atau najasah dalam bahasa Arab artinya kotoran atau sesuatu yang menjijikan dalam ilmu fiqih ialah kotoran atau sesuatu yang menjijikan yang bisa menghalangi kesempurnaan shalat.
Pembagian Najis
Najis dibagi menjadi Tiga Bagian:
1- Najis Mugholladzoh. (Berat)
Najis yang berat yaitu anjing, babi dan anak yang lahir dari keduanya.
Cara mensucikannya ialah dicuci bersih dengan air 7 kali dan salah satunya wajib dicuci dengan tanah.
عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : طُهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَ سَبْعًا أولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ (رواه مسلم)
Cara ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda: “Sucinya tempat (perkakas) seseorang diantara kamu apabila telah dijilat oleh anjing, adalah dengan dicuci tujuh kali. Permulaan diantara pencucian itu (harus) dicuci dengan tanah”. (HR. Muslim)
2- Najis Mukhofafah (Ringan)
Ialah najis yang ringan, seperti air kencing anak laki-laki yang usianya kurang dari dua tahun dan belum makan apa-apa, selain air susu ibunya.
Cara membersihkannya, cukup dengan memercikkan air bersih pada benda yang terkena najis.
عَنْ عَلِيّ بن اَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي بَوْلِ الرَّضِيْعِ: يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَ يُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ (حسن صحيح أبو داود و الترمذي و ابن ماجه و الحاكم)
Dari Ali bin Abi Thalib ra, Rasulallah saw bersabda tentang kencing bayi: “Barangsiapa yang terkena air kencing bayi wanita, harus dicuci. Dan jika terkena air kencing bayi laki-laki cukuplah dengan memercikkan air padanya”. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim)
3- Najis Mutawassithah (Sedang)
Najis yang sedang, yaitu najis selain najis mughaladzah (berat) dan najis mukhafafah (ringan) seperti:
= Arak
Allah berfirman: 
يَـأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ – المائدة ﴿٩٠﴾
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Qs al-Maidah ayat: 90)
= Darah
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْمُسْتَحَاضَةِ فَإِذَا أقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاةَ ، يإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَ صَلّيِ (رواه الشيخان(
Sesuai dengan hadits dari Aisyah ra, Rasulallah saw bersabda kepada wanita yang sedang haid: “Jika datang haid, maka tinggalkanlah shalat. Jika pergi maka bersucilah dan lakukanlah shalat” (HR Bukhari Muslim)
= Nanah adalah darah yang berobah menjadi busuk
= Muntah adalah makanan yang berubah di dalam perut menjadi rusak dan busuk, hukumnya seperti tahi.
= Kotoran (tahi) manusia atau binatang (selain binatang yang tidak mengelair darahnya).
عَنْ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَيْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِحَجَرَيْنِ وَرَوْثَةٍ فأخَذَ الحَجَرَيْنِ وأَلْقَى الرَّوْثَةَ وَقَالَ: هَذَا رِكْسٌ (رواه البخاري)
Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: “Aku membawa kepada Rasulallah saw dua batu dan segumpal najis (tahi) binatang yang kering. Lalu beliau mengambil dua batu dan membuang najis tersebut. Beliau bersabda: Sesungguhnya ia najis” (HR Bukhari)
= Kencing (kecuali kecing anak laki-laki yang belum berusia 2 tahun dan belum makan kecuali susu ibunya).
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ : إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ  وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ (رواه الشيخان)
Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah saw pernah melewati dua kuburan, maka beliau bersabda, “Mereka berdua sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Adapun salah seorang dari keduanya dia tidak beristinja’ dari kencingnya (cebok), sedangkan yang lainnya dia menebarkan adu domba (namimah) ” (HR Bukhari Muslim)
= Madzi dan wadi
لِمَا صَحَّ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إذا رأيتَ المَذِي فَاغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ (رواه الشيخان)
Sesuai dengan sabda Rasulallah saw “Jika kau melihat madzi, maka cucilah kemaluanmu, dan berwudhulah” (HR Bukhari Muslim).
= Susu binatang yang tidak dimakan dagingnya hukumnya najis kecuali susu ibu (manusia) suci,
= Anggota yang terputus dari binatang yang hidup hukumnya najis kecuali ikan, belalang dan manusia.
عَنْ ابْنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ ، وَهِيَ حَيَّةٌ ، فَهُوَ مَيْتَةٌ (حسن أبو داود والترمذي)
Dari Ibnu Umar ra, Rasulallah saw bersabda “apa yang terputus dari anggota binatang hidup, adalah bangkai” (HR Abu Daud, at-Tirmidzi). Sedang rambut atau bulu bangkai binatang yang boleh dimakan dagingnya hukumnya suci. Allah berfirman
وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَآ أَثَاثاً وَمَتَاعاً إِلَى حِينٍ – النحل ﴿٨٠﴾
Artinya: “dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). (Qs An-Nahl ayat: 80)
Cara mensucikan najis mutawasithah (sedang) yaitu dicuci dengan air sampai hilang warna, bau dan rasanya.
Najis mutawassithah terbagi atas dua bagian:
1. Najis ‘Ainiah
Najis ‘Ainiah yaitu najis yang memiliki bentuk atau wujud dan bisa dilihat oleh mata. Ia memiliki warna, rasa dan bau. Kalau terkana najis ini, cara mensucikannya dengan menghilangkan zatnya sampai hilang warna, rasa dan baunya. Semasih najis itu belum hilang salah satu dari zatnya yaitu warna, rasa dan baunya, maka hukum benda itu masih tetap najis. Jika warna dan bau belum juga hilang setelah dicuci karena mendapat kesulitan maka hukum benda itu suci.
2. Najis Hukmiah
Najis Hukmiyah yaitu najis yang tidak memiliki bentuk atau wujud dan tidak bisa dilihat oleh mata. seperti kencing yang sudah kering. Cara mensucikannya cukup dengan mengalirkan air pada bekas najis tersebut.
Keterangan (Ta’liq):
  • Madzi ialah air seperti lendir yang keluar dari kemaluan sewaktu timbul birahi dan jika ingin shalat tidak usah mandi cukup dengan mecucinya sampai bersih dan wudhu.
Madi ialah air seperti lendir yang keluar dari kemaluan karena sakit diantaranya keputihan dan jika ingin shalat tidak usah mandi cukup dengan mencucinya sampai barsih dan wudhu.

https://hasansaggaf.wordpress.com/2012/02/26/najasah-pembagiannya/