f Cara Kerja Ilmu Alam, Sosial-Humaniora, dan Ilmu Keagamaan ~ Urwatun Wursqa

Senin, 05 Juni 2017

Cara Kerja Ilmu Alam, Sosial-Humaniora, dan Ilmu Keagamaan

CARA KERJA

ILMU ALAM, ILMU SOSIAL- HUMANIORA

 DAN ILMU KEAGAMAAN




DISUSUN OLEH :
1.      LAELA RIF’ATUZZULFA     (16350037)
2.      NADZIF ARFA AZ-ZUHRI    (16350038)
3.      ALI  MUTOHAR                      (16350039)
4.      A. AKHIL ADIB                       (16350040)
5.      ULUMUDIN KAMIL               (16350041)
6.      MUHAMMAD ICHSAN          (16350043)


DOSEN PENGAMPU :
Dra. Hj. Ermi Suhasti Syafe’i, M. Si.

JURUSAN AL-AHWAL ASY-SYAKHSIYYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Cara kerja ilmu merupakan suatu hal yang dipertimbangkan dalam bidang keilmuan. Cara kerja ilmu sendiri tidak bisa secara individu. Dia harus dibarengi dengan sudut pandang ilmu lain.  Dalam artian suatu serangkaian yang saling melengkapi. Dapat dikatakan juga ia saling membutuhkan guna melihat esistensi dari ilmu itu sendiri.
Cara kerja ilmu itu sendiri sekarang mengalami permasalahan atau problematika yang terjadi karena banyak kritik dari para ilmuan yang mempermasalahkan integrasi dan interkoneksi antar ilmu tersebut. Nah, inegrasi interkoneksi sendiri terjadi karena adanya pemisahan atau terpisahnya ilmu agama yang seharusnya di terapkan namun, justru terlupakan. Karena ilmu agama sendiri yang memiliki esistensi terhadap interaksi dengan alam, sehingga muncul kerusakan-kerusakan ekologis. Namun, hal ini telah disadari oleh para ilmuan tadi sehingga mendorong ilmuan untuk memperhatikan integrasi dan interkoneksi tersebut.
Perkembangan suatu ilmu tersendiri mengiringi tingkat  kebutuhan manusi yang bersifat material, teknis, kemasyarakatan sampai religius. Seperti halnya manusia perlu berinteraksi dengan sesama nya maka ia membutuhkan nilai-nilai sosial.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Cara Kerja Ilmu Alam
2.      Bagaimana Cara Kerja Ilmu Sosial-Humaniora
3.      Bagaimana Cara Kerja Ilmu Keagamaan dan Keislaman

C.    Tujuan
1.      Mengetahui Cra kerja Ilmu Alam
2.      Bagaimana Cara Kerja Ilmu Sosial-Humaniora
3.      Bagaimana Cara Kerja Ilmu Keagamaan dan Keislaman




BAB II
PEMBAHASAN

1.      Cara Kerja Ilmu Alam
Awal di Yunani kuno, sebelum adanya filsafat para ilmuan memperbincangkan manfaat dari ilmu itu sendiri. Yakni manfaat bagi manusia itu sendiri, dimana ilmu memiliki ciri-ciri yang mudah dilakukan oleh manusia dalam artinya ia tidak menyulitkan untuk dipahami dan juga dapat mengubah mindset seseorang terhadap sesuatu dalam memandang objek tertentu melalui perspektif ilmu itu sendiri. [1]
·         Gejala alam bersifat fisik statis
Hal ini berkaitan dengan ilmu, karena sifatnya yang statis. Jadi, memandang suatu objek dengan cara sederhana karena sifat dari objek tersebut yang statis.
·         Objek penelitian dapat berulang
Objek gejala alam itu sendiri bersifat fisikal dan statis yang mana dapat diamati secara berulang-ulang dan tetap. Meskipun, penemuan-penemuan ilmuan terdahulu, namun masih bisa kita teliti hingga sekarang.
·         Pengamatan relatif dan lebih mudah
Disini bermaksud apabila ada seseorang yang melakukan pengamatan terhadap suatu objek tertentu lebih mudah. Tentunya pengamatan dibantu dengan alat-alat yang memadahi. Sehingga kapan pun seseorang akan mencari data itu kembali dapat dikerjakan lagi meskipun nanti data dan hasil yang ia terima berbeda dari hasil awal.
·         Subyek (Peneliti) hanya sebagai penonton
Disini seseorang yang melakukan pengamatan terhadap suatu objek, bersifat objektif dan benar-benar hasil dari objek yang diamati oleh subyek. Tidak lain halnya subyek hanya memperlihatkan hasil pengamatannya terhadap orang lain. Sehingga riil dari hasil yang dilakukan oleh subyek terhadap suatu objek tertentu.[2]
·         Memiliki daya prediktif yang relative mudah dikontrol
Ilmu dijelaskan sebagai berikut karena, ia memiliki sifat yang menarik. Dari ilmu tersebut gejala alam dapat membangun teori-teori yang mana dapat dilihat oleh ilmuan apa yang terjadi selanjutnya dari gejala-gejala yang terjadi tersebut.[3]
2.      Cara Kerja Ilmu Sosial Humaniora
Cara kerja ilmu sosial humaniora tidak seperti permasalahan yang ada pada cara kerja ilmu lam yang mana permaslahannya lebih kompleks.[4]
Interaksi sosial tersebut dilakukan dengan memakai pranata sosial yang mana ada aturan-aturan yang mengatur suatu interaksi. Karena dalam masyarakat terdapat pelapisan sosial yang berbeda-beda. Sehingga interaksi ersebut dibutuhkan, namun memakai pranata sosial guna menghormati strata sosial.[5]
·         Gejala sosial humaniora bersifat non fisik, hidup dinamis
Objek daripada gejala ini merupakan manusia. Sehingga bagaimana kita memahami manusia dan dalam hal tersebut kita membutuhkan interaksi. Namun, secara sudut pandang medis ia meliha dari apa yang ada didalam manusia itu sendiri.[6]
Menyikapi manusia itu sendiri pada dasarnya ada beberapa pendekatan yang cocok, mulai dari fungsional, interaksional, dan konflik. Yakni, mulai dari memposisikan manusia dengan semestinya karena manusia itu sendiri berkembang dan berkelompok, kemudian bagaimana cara kita mengekspresikan perlakuan terhadap suatu objek tertentu, dan yang terakhir memberikan hak manusia bahwa manusia memiliki kepentingan individu atau lainnya.
·         Objek penelitian tidak dapat berulang
Disini dipaparkan bahwasanya objek penelitian tidak bersifat statis dan stagnan. Karena, melihat dari historial yang ada mereka berkembang mengikuti waktu. Begitu juga dengan masalah yang bersifat kompleks dan terus berkembang.
·         Pengamatan lebih sulit dan kompleks
Hal ini berkaitan dengan objek yang tidak bersifat statis. Dimana pemaknaan terhadap sesuatu memunculkan banyak makna. Sehingga permasalahan yang kompleks muncul.
·         Subjek peneliti  juga sebagai bagian integral dari objek yang diamati.
Kebalikan dengan objek alam, objek dari soshum ini merupakan manusia . jadi penerapan prinsip yang ada lain halnya lebih condong ke sifat subyektivitas. Sehingga mencari riil data dari objek tersebut lebih sulit. Karena onjek dari permasalahan ialah manusia.
·         Memiliki daya prediktif yang relatif
Berdasarkan hal ini teori soshum tidak dapat memprediksikan apa yang akan terjadi selanjunya, karena objeknya merupakan manusia. Sehingga terjadinya permasalahan atau penyikapan terhadap masalah tersebut relatif.[7]
3.      Cara Kerja Ilmu Keagamaan dan Keislaman
Cara kerja ilmu ini berpengaruh terhadap kehidupan adikodrati manusia yang mana, sebagai symbol spritual. Dan juga pengukur keimanan seseorang dan interaksi antara mausia terhadap tuhannya.
·         Ekspresi keimanan pemahaman teks suci
 Hal ini sebagai bentuk pemahaman manusia terhadap teks-teks suci yang mana diyakini oleh orang tersebut.
·         Objek penelitian unik dan tidak dapat diulang
Objek ini tidak dapat di ulang karena, kejadian keagamaan sebagaimana tercermin dalam perilaku keagamaan orang beragama yang tidak dapat direkonstruksi orang sesudahnya seperti awal.
·         Pengamatan Sulit dan kompleks dengan interpretasi teks-teks suci keagamaan
Pemaknaan hal ini sulit dilakukan karena, permasalahan dari objek sendiri komplek. Jadi, bagaimana bentuk atau ekspresi keimanan mereka terhadap  pemahaman teks-teks suci keagamaan.
·         Subyek pengamat (peneliti) sebagai bagian integral dari objek yang diamati
Keterlibatan emosional dan rasional dalam memahami dan menyimpulkan makna teks-teks suci tersebut. Dan hal tersebut bagian dari integral dari objek yang diamati tersebut.[8]
4.      Hubungan antara Ilmu Alam, Ilmu Sosial-Humaniora, dan Keagamaan
Ilmu alam, ilmu sosial-humaniora, dan ilmu keagamaan adalah ilmu yang tidak dapat dipisahkan. Apabila berbicara ilmu alam, secara tidak langsung akan membicarakan ilmu sosial-humaniora dan ilmu keagamaan. Apapun yang terjadi pada manusia tidak akan terlepas dari tiga ilmu tersebut.
Contoh kertakitan dari ketiga ilmu tersebut adalah peranan suami dalam melakukan vasektomi.[9] Perihal vasektomi dapat dikaji dengan menggunakan ilmu alam yaitu ilmu biologi, karena biologi mempelajari makhluk hidup termasuk vasektomi. Sedangkan seseorang yang melakukan dan berperan dalam vasektomi merupakan bagian dari ilmu sosial-humaniora dimana kajiannya adalah manusia dalam bermasyarakat, dan ilmu agama disini digunakan untuk membahas bagaimana pandangan agama khususnya islam dalam hal vasektomi.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Cara kerja ilmu yang sedemikian rupa dan telah dibahas oleh para filsuf-filsuf tersebut memberikan pandangan berbeda terhadap suatu bidang ilmu secara berbeda. Sehingga, pengubahan pandangan dan cara berfikir mulai terjadi. Hal ini bertujuan mewujudkan tujuan dari ilmu itu sendiri.
Namun, ilmu-ilmu ini tidak dapat berkembang secara sendiri. Dimana membutuhkan pelengkap dari ilmu-ilmu lain. Ilmu-ilmu lain melengkapi untuk keselarasan antara keterkaitan tersebut. Pada dasarnya mulai dari cara kerja ilmu alam sampai dengan cara kerja ilmu agama atau keislaman, memiliki substansi yang saling mendukung atau dibutuhkan. Dimana objek membutuhkan cara kerja ilmu-ilmu tersebut. Mungkin, hanya saja terdapat beberapa hal yang tidak sama dalam segi penelitian. Karena objek dari hal yang diteliti berbeda.



DFTAR PUSTAKA

Nasuion, Khoiruddin, Pengantar Studi Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2016
Suhasti, Ermi, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta : Prajnya Media 2012
Fatimah, Siti dan Suhasti.S, Syafe’i, 2014, “Partisipasi Suami Melakukan Vasektomi”, Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam, Vol. 7, No. 2, hlm. 111-133.




[1] Hj. Ermi Suhasti, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Prajnya Media, 2012. hlm 111
[2] Ibid., hlm 112-113
[3] Ibid., hlm 114
[4] Ibid., hlm 115
[5] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam, Jakarta :Raja Grafindo Persada, 2016
[6] Hj. Ermi Suhasti, Op.Cit., hlm 116
[7] Ibid., hlm 120
[8] Ibid., hlm 123
[9]  Siti Fatimah dan Ermi Suhasti S, “Partisipasi Suami Melakukan Vasektomi”, Al-Ahwal Jurnal Hukum Keluarga Islam, Vol. 7, No. 2 (2014), hlm. 111-133.

0 komentar:

Posting Komentar